Air tanah merupakan sumber daya vital di Cekungan Bandung yang menghadapi tekanan akibat eksploitasi intensif. Pemahaman tentang hubungan antara variabilitas curah hujan dan respons muka air tanah menjadi kunci dalam pengelolaan sumber daya air tanah yang berkelanjutan. Penelitian ini menganalisis karakteristik respons muka air tanah terhadap curah hujan menggunakan data muka air tanah (MAT) dan curah hujan beresolusi tinggi dari dua sumur pantau (Sumur Ganesha dan Sumur Jatinangor) yang memiliki karakteristik berbeda. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan deret waktu yang mencakup fungsi autokorelasi (ACF) untuk waktu memori, fungsi silang-korelasi (CCF) untuk waktu respons, gain function Tukey-Hanning untuk karakteristik transmisi aliran, serta metode Water Table Fluctuation (WTF) untuk estimasi volume dan efisiensi imbuhan. Variabilitas hujan dikuantifikasi menggunakan 17 indeks yang mencakup jumlah hujan, frekuensi, durasi, intensitas, dan distribusi statistik kejadian hujan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Sumur Ganesha memiliki waktu memori lebih panjang (42,6 hari) dibandingkan Sumur Jatinangor (30 hari), mencerminkan kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Waktu respons terhadap hujan berkisar antara 13–29 jam di Ganesha dan 14 jam di Jatinangor. Analisis gain function mengidentifikasi komponen aliran konduit pada periode kurang dari 43–107 jam, aliran rekahan pada periode 43–480 jam, dan aliran difus pada periode lebih panjang. Estimasi WTF menghasilkan total imbuhan sebesar 98–147 mm untuk Ganesha dengan efisiensi 40–53%, dan 678 mm untuk Jatinangor dengan efisiensi 55%. Analisis korelasi Pearson mengungkapkan bahwa efisiensi imbuhan berkorelasi negatif signifikan dengan total curah hujan di kedua lokasi (r = ?0,79 di Ganesha dan r = ?0,78 di Jatinangor), mengkonfirmasi hipotesis bahwa curah hujan lebih besar tidak selalu menghasilkan efisiensi imbuhan lebih tinggi. Indeks variabilitas hujan yang paling berpengaruh adalah frekuensi hari hujan (RD10, RD25) dan kondisi hujan anteseden (ATR), bukan semata-mata total curah hujan bulanan. Hujan intensitas sedang yang terdistribusi merata terbukti lebih efektif menghasilkan imbuhan dibandingkan hujan yang terkonsentrasi dalam kejadian ekstrem.
Perpustakaan Digital ITB