digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Serium merupakan salah satu unsur tanah jarang yang termasuk dalam kelompok Light Rare Earth Element (LREE) dengan tingkat keterdapatan paling melimpah dibandingkan unsur REE lainnya. Selain melimpah, serium juga memiliki manfaat yang luas dalam berbagai bidang industri, di antaranya sebagai bahan polishing (pemoles) untuk kaca dan optik, katalis pada konverter kendaraan bermotor, aditif dalam pembuatan kaca dan keramik, serta bahan tambahan pada paduan logam untuk meningkatkan ketahanan terhadap oksidasi. Meskipun memiliki nilai ekonomis dan aplikasi yang beragam, serium memiliki stabilitas termodinamika yang sangat tinggi. Serium dioksida (CeO2) merupakan bentuk senyawa oksida dari serium yang paling stabil berikatan dengan oksigen. Hal tersebut menyebabkan proses produksi serium logam dari oksidanya membutuhkan energi yang besar serta menghadapi tantangan teknis yang tidak sederhana. Sampai saat ini, serium murni komersial dengan kemurnian sekitar 98–99% berat umumnya diproduksi melalui dua jalur utama, yaitu elektrolisis garam lebur dan proses metallotermik. Kedua metode ini sudah banyak diaplikasikan di industri, namun keduanya memiliki keterbatasan, baik dari sisi konsumsi energi, biaya operasional, maupun dampak lingkungan yang ditimbulkan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Kebutuhan ini semakin mendesak seiring dengan meningkatnya permintaan serium untuk aplikasi teknologi tinggi, seperti industri elektronik dan energi terbarukan. Salah satu metode reduksi yang mulai banyak dilirik saat ini adalah hydrogen plasma smelting reduction (HPSR). HPSR merupakan proses reduksi peleburan yang memanfaatkan plasma hidrogen. Metode ini menarik karena menggabungkan dua keunggulan sekaligus, yakni temperatur tinggi yang dihasilkan oleh plasma dan sifat reduktif kuat dari gas hidrogen. Kombinasi ini berpotensi mempercepat laju reduksi oksida logam dibandingkan metode konvensional. Namun, penerapan HPSR pada oksida tanah jarang, khususnya CeO2, masih sangat jarang diteliti secara mendalam. Padahal, pemahaman terhadap mekanisme reduksinya sangat penting untuk mendukung pengembangan proses produksi serium yang lebih efisien dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perilaku reduksi CeO2 dalam kondisi plasma hidrogen dengan variasi waktu reduksi selama 2, 4, 6, dan 8 menit. Sampel yang digunakan berupa briket CeO2 yang dibuat dari serbuk CeO2 dengan kemurnian 99,9%. Proses reduksi dilakukan dalam atmosfer plasma argon– hidrogen, kemudian produk hasil reduksi dikarakterisasi melalui pengamatan visual, perhitungan kehilangan oksigen, scanning electron microscopy (SEM), dan energy dispersive spectroscopy (EDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan waktu reduksi menyebabkan terjadinya konsolidasi briket, aglomerasi partikel, perubahan morfologi permukaan, serta pelepasan oksigen secara bertahap. Analisis SEM-EDS menunjukkan adanya penurunan rasio O/Ce seiring dengan bertambahnya waktu reduksi. Pada waktu reduksi 8 menit, kandungan oksigen pada area analisis terpilih menurun hingga sekitar 2,96 % berat, sedangkan kandungan Ce meningkat hingga sekitar 97,04 % berat. Hal ini menunjukkan terjadinya deoksidasi lokal yang signifikan akibat pelepasan oksigen dari CeO2 selama proses reduksi plasma hidrogen. Berdasarkan hasil tersebut, reduksi CeO2 dalam kondisi plasma hidrogen diduga berlangsung secara progresif melalui pelepasan oksigen dan berpotensi membentuk fasa oksida serium non-stoikiometri yang kekurangan oksigen, seperti CeO2??. Namun demikian, pembentukan serium logam belum dapat dikonfirmasi hanya berdasarkan data kehilangan oksigen dan SEM-EDS. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode HPSR memiliki potensi untuk mereduksi CeO2 secara parsial dan dapat menjadi dasar bagi pengembangan rute produksi logam serium yang lebih berkelanjutan melalui optimasi parameter proses dan karakterisasi lanjutan. Kata kunci: serium dioksida, ceria, hydrogen