digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Antimikroba digunakan untuk mengobati infeksi akibat mikroorganisme, dengan keberhasilan terapi bergantung pada ketepatan indikasi, pemilihan obat, dosis, rute, dan durasi pemberian. Penggunaan yang tidak rasional dapat menyebabkan kegagalan terapi dan resistensi antimikroba, yang menurut WHO menyebabkan 1,27 juta kematian di dunia pada tahun 2019. Evaluasi rasionalitas antimikroba menjadi bagian penting Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), namun penerapannya dengan metode Gyssens pada pasien rawat inap rumah sakit khusus mata di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antimikroba menggunakan metode Gyssens pada pasien rawat inap di RS Mata Cicendo Bandung. Penelitian observasional deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang ini menggunakan data rekam medis retrospektif 225 pasien rawat inap di RSMC Bandung periode Juli-Desember 2025, yang dipilih dari 513 populasi menggunakan rumus Slovin dan stratified random sampling. Diagnosis infeksi bakteri merupakan kelompok terbanyak, diikuti infeksi jamur dan infeksi virus. Evaluasi dari 427 penggunaan antimikroba yang terdiri atas 19 jenis antimikroba, 34,4% tergolong rasional (kategori 0) dan 65,6% tidak rasional, terutama karena pemilihan antimikroba kurang sesuai (kategori IVA, 37,5%) dan durasi terapi terlalu singkat (kategori IIIB, 27,2%). Moksifloksasin tetes mata memiliki proporsi rasional tertinggi (89,1%), sedangkan natamisin tetes mata memiliki proporsi ketidakrasionalan tertinggi (98,5%). Penilaian rasionalitas pada penelitian ini terbatas pada penggunaan antimikroba selama pasien menjalani rawat inap, sehingga terapi lanjutan setelah pasien pulang tidak dapat dievaluasi, yang berpotensi memengaruhi penilaian durasi terapi. Penggunaan antimikroba di RSMC Bandung belum sepenuhnya rasional, sehingga evaluasi berkala terhadap pemilihan obat dan durasi terapi diperlukan untuk mendukung pelaksanaan PPRA.