Antimikroba digunakan untuk mengobati infeksi akibat mikroorganisme, dengan keberhasilan
terapi bergantung pada ketepatan indikasi, pemilihan obat, dosis, rute, dan durasi pemberian.
Penggunaan yang tidak rasional dapat menyebabkan kegagalan terapi dan resistensi antimikroba,
yang menurut WHO menyebabkan 1,27 juta kematian di dunia pada tahun 2019. Evaluasi
rasionalitas antimikroba menjadi bagian penting Program Pengendalian Resistensi Antimikroba
(PPRA), namun penerapannya dengan metode Gyssens pada pasien rawat inap rumah sakit khusus
mata di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
rasionalitas penggunaan antimikroba menggunakan metode Gyssens pada pasien rawat inap di RS
Mata Cicendo Bandung. Penelitian observasional deskriptif analitik dengan pendekatan potong
lintang ini menggunakan data rekam medis retrospektif 225 pasien rawat inap di RSMC Bandung
periode Juli-Desember 2025, yang dipilih dari 513 populasi menggunakan rumus Slovin dan
stratified random sampling. Diagnosis infeksi bakteri merupakan kelompok terbanyak, diikuti
infeksi jamur dan infeksi virus. Evaluasi dari 427 penggunaan antimikroba yang terdiri atas 19 jenis
antimikroba, 34,4% tergolong rasional (kategori 0) dan 65,6% tidak rasional, terutama karena
pemilihan antimikroba kurang sesuai (kategori IVA, 37,5%) dan durasi terapi terlalu singkat
(kategori IIIB, 27,2%). Moksifloksasin tetes mata memiliki proporsi rasional tertinggi (89,1%),
sedangkan natamisin tetes mata memiliki proporsi ketidakrasionalan tertinggi (98,5%). Penilaian
rasionalitas pada penelitian ini terbatas pada penggunaan antimikroba selama pasien menjalani
rawat inap, sehingga terapi lanjutan setelah pasien pulang tidak dapat dievaluasi, yang berpotensi
memengaruhi penilaian durasi terapi. Penggunaan antimikroba di RSMC Bandung belum
sepenuhnya rasional, sehingga evaluasi berkala terhadap pemilihan obat dan durasi terapi
diperlukan untuk mendukung pelaksanaan PPRA.
Perpustakaan Digital ITB