COVER Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Fairuz Rizki Izzati
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Saat ini, Indonesia menjadi negara yang menduduki peringkat kedua
penghasil sampah plastik terbanyak di dunia. Sebanyak 6,7 ton sampah plastik
dihasilkan setiap tahunnya, dengan limbah plastik PET (polyethylene
terephthalate) merupakan salah satu jenis limbah yang umum dihasilkan. PET
banyak digunakan dalam kegiatan industri dan kebutuhan rumah tangga karena
sifatnya yang kuat, lentur, tidak mudah mengalami kerusakan akibat gangguan
panas dan bahan kimia. Namun, karena karakteristik PET tersebut, sulit untuk
menentukan metode penanganan limbah PET yang efisien, hemat energi, dan
ramah lingkungan. Salah satu alternatifmetode yang dapat dilakukan adalah
dengan biodegradasi PET menggunakan enzim PETase mutan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi sistem kultivasi E. coli BL21 (DE3) rekombinan
untuk produksi enzim PETase mutan ekstraseluler menggunakan agen induksi
IPTG dengan metode curah-umpan (fed-batch) dan strategi pengumpanan
periodik (intermittentfeeding) menggunakan sumber karbon high-fructose corn
syrup (HFCS) untuk mempertahankan kadar HFCS sebesar 12,5 g/L ppm setiap
7 jam sekali selama waktu kultivasi 31 jam. Parameter yang diukur meliputi
OD600, pH, oksigen terlarut (DO), kadar HFCS setelah pemberian feeding,
kadar protein total pada fraksi ekstraseluler serta nilai aktivitas biokatalitik fraksi
protein kasar terhadap substrat analog pNPB. Hasil penelitian menunjukkan
OD600 yang teramati mengalami tren penurunan dari 1,54 hingga 1,48 diiringi
dengan tren penurunan pH dari 6,2 hingga 5,19 selama waktu inkubasi 24 jam
setelah induksi. Nilai DO mengalami penurunan dari 6,5 hingga 4,7 mg/L pada
13 jam setelah induksi, namun kembali mengalami kenaikan hingga 5,9 mg/L
pada 24 jam setelah induksi. Hasil uji statistik menggunakan ANOVA
menunjukkan bahwa strategi intermittent feeding dan sistem kultivasi fed-batch
yang dilakukan untuk menjaga kadar HFCS sebesar 12,5 g/L selama kultivasi
tidak berpengaruh signifikan (p > 0,05) terhadap kadar protein total yang
diperoleh pada fraksi ekstraseluler, dengan kadar protein total sistem batch
sebesar (0,159 ± 0,015) mg/mL dan kadar protein total sistem fed-batch sebesar
(0,215 ± 0,034) mg/mL di akhir waktu kultivasi. Hasil uji aktivitas bio katalitik fraksi protein kasar ekstraseluler menunjukkan tren penurunan dengan nilai
tertinggi sebesar 35,997 U/mg protein kasar yang diperoleh pada waktu inkubasi
6 jam setelah induksi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan
bahwa strategi pengumpanan HFCS yang bertujuan untuk mempertahankan
kadar HFCS s e b esar 12,5 g/L ppm setiap 7 jam selama waktu kultivasi 31 jam
menghasilkan fraksi protein kasar ekstraseluler dengan aktivitas biokatalitik
terhadap substrat pNPB, namun kurang relevan digunakan untuk optimasi
peningkatan jumlah biomassa pada kultivasi E. coli BL21 (DE3) untuk produksi
enzim PETase mutan.
Perpustakaan Digital ITB