Asma merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) kronik yang menyerang
saluran pernapasan dan dapat terjadi pada semua kelompok usia. Gastroesophageal
reflux disease (GERD) merupakan komorbiditas asma yang dapat menimbulkan
beban penyakit (burden of disease), terutama dari sisi ekonomi maupun sosial bagi
pasien, keluarga, maupun sistem kesehatan nasional. Penelitian ini bertujuan
mengetahui prevalensi, faktor risiko demografis yang berhubungan dengan
kejadian komorbiditas GERD, dan frekuensi kunjungan ke Fasilitas Kesehatan
Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) pada pasien asma peserta BPJS Kesehatan
periode Juli 2023–Desember 2024.
Data klaim BPJS Kesehatan diunduh dari Portal Data JKN, difilter menggunakan
kode ICD-10 dan INA-CBGs untuk mengidentifikasi pasien asma dan GERD,
dilanjutkan pembersihan data serta eksklusi peserta dengan data demografi tidak
lengkap dan kunjungan kurang dari dua kali. Prevalensi GERD dibandingkan antara
kelompok asma dan non-asma, faktor risiko demografis dianalisis menggunakan uji
chi-square dan regresi logistik berganda, dan frekuensi kunjungan dianalisis
menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post-hoc Dunn.
Dari total 206.954 sampel akhir, prevalensi GERD pada pasien asma sebesar 2,08%,
lebih tinggi dibandingkan non-asma (1,48%), dengan risiko GERD 1,411 kali lebih
tinggi pada pasien asma (OR=1,411; 95% CI: 1,167–1,706; p<0,001). Usia dan
segmen kepesertaan Pekerja Penerima Upah (PPU) berhubungan signifikan dengan
kejadian GERD pada pasien asma (p<0,05), dengan OR usia 1,020 dan OR PPU
3,910 dibandingkan Bukan Pekerja. Pasien asma dengan GERD memiliki rata-rata
frekuensi kunjungan lebih tinggi dibandingkan asma tanpa GERD (2,99±2,90
berbanding 2,17±2,53 kunjungan; p<0,001). Komorbiditas GERD lebih sering
ditemukan pada pasien asma, berkaitan dengan karakteristik demografis tertentu,
dan meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan rujukan.
Perpustakaan Digital ITB