digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Asma merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) kronik yang menyerang saluran pernapasan dan dapat terjadi pada semua kelompok usia. Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan komorbiditas asma yang dapat menimbulkan beban penyakit (burden of disease), terutama dari sisi ekonomi maupun sosial bagi pasien, keluarga, maupun sistem kesehatan nasional. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi, faktor risiko demografis yang berhubungan dengan kejadian komorbiditas GERD, dan frekuensi kunjungan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) pada pasien asma peserta BPJS Kesehatan periode Juli 2023–Desember 2024. Data klaim BPJS Kesehatan diunduh dari Portal Data JKN, difilter menggunakan kode ICD-10 dan INA-CBGs untuk mengidentifikasi pasien asma dan GERD, dilanjutkan pembersihan data serta eksklusi peserta dengan data demografi tidak lengkap dan kunjungan kurang dari dua kali. Prevalensi GERD dibandingkan antara kelompok asma dan non-asma, faktor risiko demografis dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda, dan frekuensi kunjungan dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post-hoc Dunn. Dari total 206.954 sampel akhir, prevalensi GERD pada pasien asma sebesar 2,08%, lebih tinggi dibandingkan non-asma (1,48%), dengan risiko GERD 1,411 kali lebih tinggi pada pasien asma (OR=1,411; 95% CI: 1,167–1,706; p<0,001). Usia dan segmen kepesertaan Pekerja Penerima Upah (PPU) berhubungan signifikan dengan kejadian GERD pada pasien asma (p<0,05), dengan OR usia 1,020 dan OR PPU 3,910 dibandingkan Bukan Pekerja. Pasien asma dengan GERD memiliki rata-rata frekuensi kunjungan lebih tinggi dibandingkan asma tanpa GERD (2,99±2,90 berbanding 2,17±2,53 kunjungan; p<0,001). Komorbiditas GERD lebih sering ditemukan pada pasien asma, berkaitan dengan karakteristik demografis tertentu, dan meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan rujukan.