Delta Berau, Kalimantan Timur, merupakan estuari bertipe tide-dominated yang
menjadi jalur utama pelayaran dan operasional kapal tongkang, sehingga prediksi
tinggi muka air yang akurat sangat diperlukan. Penelitian ini membandingkan
performa Regresi Linear, Support Vector Regression (SVR), dan Random Forest
dalam mengestimasi tinggi muka air menggunakan data univariat elevasi muka air
dari program East Kalimantan Programme tahun 2007 pada empat stasiun
pengamatan. Data dibagi menjadi 80% data pelatihan dan 20% data pengujian,
kemudian dimodelkan menggunakan raw data dan data residu (data non-pasut)
melalui pendekatan sliding window dengan fitur waktu 15, 30, dan 60 menit. Model
SVR dan Random Forest dioptimasi menggunakan grid search. Kinerja model
dievaluasi menggunakan koefisien determinasi (R²), Root Mean Square Error
(RMSE), dan Mean Absolute Error (MAE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Regresi Linear dan SVR secara konsisten memberikan performa terbaik, dengan
masing-masing memperoleh nilai R² tertinggi sebesar 0,984 di Stasiun Muara
Tumbuk pada fitur waktu 15 menit, lebih tinggi sekitar 1,2% dibandingkan Random
Forest (R2 0,971). Peningkatan interval waktu dari 15 menjadi 30 dan 60 menit
menurunkan performa model, ditunjukkan oleh penurunan nilai R² Regresi Linear
di Muara Tumbuk dari 0,984 menjadi 0,938 (4,6%) dan 0,770 (21,7%). Proses
hyperparameter tuning meningkatkan performa Random Forest, disertai penurunan
RMSE dan MAE masing-masing sekitar 12,6% dan 13,7%, sedangkan pada SVR
peningkatan nilai R² hanya sekitar 0,004% di Stasiun Batu-Batu. Analisis spasial
menunjukkan bahwa pada Regresi Linear dengan interval waktu 15 menit, nilai R²
di stasiun muara, yaitu Semanting dan Muara Tumbuk, masing-masing sekitar
0,07% dan 0,04% lebih tinggi dibandingkan Tanjung Redeb di wilayah hulu.
Perpustakaan Digital ITB