Squeezing merupakan salah satu permasalahan kestabilan terowongan yang
ditandai oleh deformasi plastis progresif ketika tegangan di sekitar bukaan lebih
besar daripada kekuatan massa batuan. Penelitian ini bertujuan menyusun model
regresi logistik biner untuk memperkirakan probabilitas terjadinya squeezing
berdasarkan kedalaman terowongan (H), kualitas massa batuan (Q), diameter
bukaan (D), strength–stress ratio (SSR), dan kekakuan penyangga (K). Data
penelitian terdiri atas 166 kasus terowongan yang dikumpulkan dari literatur,
meliputi 109 kasus squeezing dan 57 kasus no squeezing. Analisis dilakukan
terhadap pengaruh masing-masing parameter serta empat kombinasi model. Untuk
mengetahui sensitivitas model terhadap keberadaan nilai ekstrem, data juga
dianalisis menggunakan metode Tukey dan pendekatan mean ± standar deviasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kedalaman dan diameter bukaan
cenderung meningkatkan probabilitas squeezing. Sebaliknya, peningkatan nilai Q,
SSR, dan K cenderung menurunkan probabilitas tersebut. Kombinasi seluruh
parameter menghasilkan kinerja klasifikasi tertinggi, dengan akurasi total sebesar
96,23% pada 53 data lengkap. Model ini mampu mengidentifikasi sekitar 97%
kasus squeezing dan 96% kasus no squeezing. Model H–Q–K juga menunjukkan
kinerja yang baik, dengan akurasi sebesar 92,59% pada 108 data. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa regresi logistik dapat digunakan sebagai alat prediksi awal
untuk menilai potensi squeezing sekaligus menghasilkan persamaan yang mudah
diterapkan. Meskipun demikian, penggunaan model pada lokasi baru tetap
memerlukan validasi lokal dan harus dipadukan dengan investigasi geoteknik serta
monitoring lapangan.
Perpustakaan Digital ITB