Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan
potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya,
hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun
terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang
berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah
pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab
persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai
pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik
Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI
mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra
Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000,
serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine,
QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui
klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode
pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi
(RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih
sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2
menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024).
Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona
pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan).
Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada
seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi
kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
Perpustakaan Digital ITB