digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kinerja ESG telah menjadi pertimbangan utama dalam strategi perusahaan dan pengambilan keputusan investasi di kawasan ASEAN, namun implikasi keuangan dari skor ESG yang dinilai secara eksternal masih belum dipahami secara memadai di sektor non-keuangan regional ini. Penelitian ini mengkaji apakah skor ESG Refinitiv berhubungan dengan kinerja keuangan perusahaan, yaitu Net Profit Margin (NPM), Return on Assets (ROA), dan Tobin's Q, serta apakah perilaku herding dalam keputusan struktur modal memoderasi hubungan tersebut. Panel yang terdiri dari 30 perusahaan non-keuangan di enam negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diamati selama periode 2020-2024 menggunakan PLS-SEM. Hasil penelitian mengkonfirmasi bahwa perilaku herding dalam manajemen struktur modal terjadi di keempat sektor industri sepanjang periode observasi. Ukuran dan usia perusahaan keduanya berhubungan positif dengan skor ESG Refinitiv. Skor ESG Refinitiv tidak menunjukkan hubungan langsung yang signifikan dengan NPM, namun berhubungan positif dan signifikan dengan ROA maupun Tobin's Q. Ketika perusahaan diklasifikasikan berdasarkan kepemimpinan ESG yang sesungguhnya melalui peringkat skor ESG Refinitiv, perusahaan pemimpin ESG memperoleh manfaat keuangan yang lebih besar dibandingkan perusahaan pengikut pada jalur NPM dan ROA, dengan selisih koefisien jalur masing-masing sebesar 0,228 dan 0,416, meskipun pola ini tidak berlaku untuk Tobin's Q, di mana koefisien perusahaan pemimpin dan pengikut relatif setara. Vietnam juga teridentifikasi sebagai pasar yang hubungan-hubungan terkait ESG-nya berbeda secara signifikan dibandingkan kelima negara ASEAN lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja ESG tidak secara otomatis menghasilkan nilai keuangan bagi seluruh perusahaan; manfaat keuangan berbasis akuntansi justru terkonsentrasi pada perusahaan dengan kepemimpinan ESG yang autentik, bukan pada perusahaan yang sekadar mengadopsi praktik ESG secara imitatif. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi inti, bukan sekadar kepatuhan regulasi; regulator sebaiknya merancang kerangka yang mendorong capaian ESG yang terukur; dan investor disarankan untuk mengutamakan kualitas kinerja ESG dibandingkan volume pengungkapan. Keywords: Kinerja ESG, Skor ESG Refinitiv, Perilaku Herding, Kinerja Keuangan, ASEAN