Bantalan gelinding merupakan komponen mesin yang banyak digunakan di pembangkit tenaga listrik. Kerusakan bantalan gelinding pada mesin-mesin tersebut dapat menyebabkan kerugian besar, apalagi bila kerusakan terjadi secara mendadak. Untuk mendeteksi kerusakan bantalan, Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Suralaya hanya melakukan pengukuran getaran dengan menggunakan perangkat akuisisi data VS. Padahal, perangkat akuisisi data VS ini juga memiliki kemampuan untuk mendeteksi kerusakan bantalan dengan metode shock pulse.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan hasil pengukuran shock pulse dan getaran dengan menggunakan perangkat akuisisi data LO dan VS pada bantalan gelinding baru, aus, dan rusak, akibat perubahan besar beban, kekentalan pelumas, dan kecepatan putar. Perangkat akuisisi data LO memiliki dua metode pengukuran shock pulse yaitu dBm/dBc dan LR/HR, sedangkan akuisisi data VS hanya memiliki satu metode pengukuran shock pulse yaitu dBm/dBc. Oleh karena itu, perbandingan yang dilakukan dalam penelitian ini hanya pada metode dBm/dBc dan getaran. Penelitian ini dimulai dengan melakukan pengujian pada bantalan baru yang dioperasikan pada tiga tingkat kecepatan putar, yaitu 1000 RPM, 1250 RPM, dan 1500 RPM. Setelah variasi kecepatan putar dilakukan, pengujian dilanjutkan dengan variasi kekentalan pelumas, yaitu pelumas ISO VG 32, ISO VG 46, dan ISO VG 68. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan pengujian variasi beban, yaitu beban 100 N, 200 N, dan 300 N. Pengujian serupa kemudian diulang untuk bantalan gelinding aus, dan rusak.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode dBm/dBc yang dihasilkan oleh perangkat akuisisi data LO memiliki nilai shock pulse yang lebih konsisten dibandingkan dengan perangkat akuisisi data VS. Namun pengujian getaran menunjukkan bahwa kedua perangkat akuisisi data menghasikan nilai getaran yang hampir sama.
Perpustakaan Digital ITB