Pertumbuhan industri kreatif visual merchandise di Indonesia yang didorong oleh
integrasi budaya fandom dan ekosistem pasar seni (art market) telah mendorong
transformasi peran kreator merchandise dari entitas fan-based menuju brand
orisinal yang mandiri berbasis kekayaan intelektual (IP). Namun, transisi ini kerap
terhambat oleh ketiadaan sistem identitas visual yang terstruktur—sebagaimana
dialami oleh Pasar Semanggi yang menghadapi keterbatasan fleksibilitas logotype
eksisting serta dikotomi preferensi audiens antara estetika fan-based dengan
tuntutan profesionalisme segmen dewasa berdaya beli mandiri. Perancangan ini
bertujuan untuk merevitalisasi identitas visual Pasar Semanggi melalui payung
kreatif "Fresh Market" dan pengembangan Graphic Standard Manual (GSM)
guna membangun citra brand yang profesional, kredibel, dan berdaya saing di
pasar ekonomi kreatif lokal tanpa mengorbankan keterikatan emosional dengan
komunitas loyal yang telah terbentuk. Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan kerangka kerja Double Diamond Framework yang
dipadukan dengan Participatory Framework untuk menjamin proses co-creation
antara desainer dan pemilik brand. Data dikumpulkan melalui triangulasi sumber
yang mencakup studi pustaka, observasi terhadap brand sejenis, wawancara
mendalam dengan kreator, serta kuesioner kepada target audiens berusia 17–34
tahun. Perancangan menghasilkan sistem identitas visual komprehensif yang
mencakup transformasi logotype menjadi simbol logo adaptif, perancangan
maskot representatif, serta pengembangan palet warna, tipografi, dan pola
dekoratif yang kohesif. Sistem visual ini diimplementasikan secara konsisten pada
berbagai titik kontak brand meliputi desain label kemasan, konsep fotografi
produk, desain booth, social media kit, dan elemen pendukung brand. Hasil
perancangan menunjukkan bahwa strategi revitalisasi identitas visual yang
sistematis dan berbasis riset merupakan upaya yang mampu memfasilitasi transisi
Pasar Semanggi menjadi brand original merchandise yang profesional, di mana
implementasi sinyal visual implisit dan kesinambungan gaya ilustrasi khas kreator
terbukti efektif sebagai visual signature yang mempertahankan rekognisi audiens
lama sekaligus memperluas jangkauan pasar ke segmen urban yang lebih luas.
Perpustakaan Digital ITB