digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengembangan infrastruktur jalan tol di Indonesia mengalami peningkatan pesat sejak tahun 2015. Namun, pertumbuhan tersebut diiringi dengan tingginya angka kecelakaan dan fatalitas, di mana sekitar 42,9% kecelakaan di jalan tol dikaitkan dengan perilaku mengemudi di atas batas kecepatan. Secara umum, kecelakaan lalu lintas di jalan tol dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu faktor lingkungan, kendaraan, dan pengemudi—di mana faktor pengemudi menyumbang sekitar 85% dari keseluruhan kasus. Meski penelitian mengenai perilaku mengemudi telah banyak dilakukan, studi yang mengintegrasikan pemodelan perilaku dan pengujian eksperimental untuk memahami perilaku mengemudi di atas batas kecepatan, khususnya melalui simulator mengemudi dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan di jalan tol Indonesia dengan menekankan peran faktor psikologis individual, serta mengevaluasi peran perspektif waktu masa depan dalam memengaruhi perilaku tersebut secara eksperimental, sebagai dasar perancangan intervensi perilaku yang berbasis bukti empiris. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap pertama berfokus pada pengembangan model perilaku berdasarkan integrasi Theory of Planned Behavior (TPB), Theory of Normative Social Behavior (TNSB), Zimbardo Time Perspective Inventory (ZTPI-18), dan Big Five Inventory (BFI-10). Model ini diuji melalui survei kepada pengemudi yang memiliki pengalaman berkendara di jalan tol. Hasil analisis tahap pertama berhasil mengidentifikasi sejumlah variabel signifikan yang mempengaruhi kecenderungan melanggar batas kecepatan, dengan perspektif waktu masa depan (Future Time Perspective/FTP) menunjukkan peran prediktif yang menonjol. Tahap kedua dilakukan melalui eksperimen menggunakan simulator mengemudi berbasis komputer untuk menguji secara kausal perbedaan perilaku mengemudi antara pengemudi dengan FTP tinggi dan FTP rendah dalam lingkungan jalan tol virtual. Data yang dikumpulkan mencakup kecepatan rata-rata, frekuensi, dan durasi mengemudi di atas batas kecepatan, aktivitas gelombang otak beta dan gamma, variabilitas denyut jantung (Heart Rate Variability/HRV), serta persepsi beban kerja mental menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa partisipan dengan FTP rendah cenderung mengemudi lebih cepat, lebih sering mengemudi di atas batas kecepatan, dan melaporkan beban kerja mental yang lebih tinggi dibandingkan partisipan dengan FTP tinggi, disertai perbedaan respons fisiologis dan kognitif yang konsisten. Temuan dari Penelitian Tahap I dan Tahap II tersebut selanjutnya diintegrasikan untuk merumuskan rancangan intervensi perilaku yang menargetkan determinan perilaku utama yang teridentifikasi secara empiris. Rancangan intervensi disusun menggunakan kerangka Behaviour Change Wheel (BCW) dengan memetakan determinan perilaku ke fungsi intervensi dan Behavior Change Techniques (BCT), yang kemudian ditranslasikan ke dalam elemen pesan dan media intervensi yang sesuai dengan konteks mengemudi. Secara keseluruhan, penelitian ini telah menghasilkan model perilaku mengemudi di atas batas kecepatan yang terintegrasi secara teoretis dan tervalidasi secara eksperimental, serta mengembangkan rancangan intervensi perilaku yang diturunkan secara sistematis dari temuan empiris tersebut. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkuat peran perspektif waktu dalam perilaku mengemudi berisiko, serta kontribusi praktis sebagai dasar pengembangan intervensi keselamatan jalan tol yang lebih terarah dan kontekstual di Indonesia.