PERANCANGAN UNIT SEDIMENTASI DAN PENGOLAHAN LUMPUR (UNIT GRAVITY THICKENER DAN SLUDGE DRYING BED) PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) KRAGILAN, KABUPATEN SERANG
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Kecamatan Kragilan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Serang yang
mengalami perkembangan kawasan permukiman dan industri sehingga kebutuhan
terhadap pelayanan air minum terus meningkat. Namun, pelayanan air minum
perpipaan di Kecamatan Kragilan masih terbatas. Instalasi Pengolahan Air (IPA)
yang saat ini melayani wilayah tersebut memiliki kapasitas efektif sebesar 20
L/detik, sedangkan unit berkapasitas 10 L/detik sudah tidak beroperasi akibat
kerusakan. Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, direncanakan pengembangan
IPA Kragilan dengan memanfaatkan Sungai Ciujung sebagai sumber air baku.
Berdasarkan proyeksi kebutuhan air hingga tahun 2049, kapasitas IPA direncanakan
secara bertahap, yaitu sebesar 110 L/detik pada Tahap I periode 2030–2039 dan
meningkat menjadi 210 L/detik pada Tahap II periode 2040–2049.
Air baku Sungai Ciujung memiliki kualitas yang berfluktuasi akibat pengaruh
kondisi musim dan aktivitas pada daerah aliran sungai. Berdasarkan data kualitas
air baku, konsentrasi rata-rata TSS sebesar 49,38 mg/L, kekeruhan 8,66 NTU,
warna 57,88 TCU, BOD 8,673 mg/L, dan COD 25,484 mg/L. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa proses penyisihan padatan menjadi salah satu bagian penting
dalam rangkaian pengolahan, terutama karena beban sedimen dapat meningkat
pada musim hujan. Selain menghasilkan air olahan, proses koagulasi, flokulasi,
sedimentasi, dan pencucian filter juga menghasilkan residu berupa lumpur. Pada
kondisi eksisting, pengelolaan lumpur belum dilengkapi sistem pengolahan yang
memadai sehingga diperlukan perancangan unit pengolahan lumpur sebagai bagian
yang terintegrasi dengan pengembangan IPA Kragilan.
Perancangan dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis
kriteria desain, melalui analisis kondisi eksisting, proyeksi kebutuhan air, analisis
kualitas air baku, penyusunan kesetimbangan massa, perhitungan timbulan lumpur,
penentuan alternatif teknologi, perancangan teknis unit terpilih, penyusunan
gambar teknik dan spesifikasi teknis, serta analisis aspek nonteknis. Pemilihan
konfigurasi pengolahan dilakukan menggunakan metode Simple Additive
Weighting (SAW) dengan mempertimbangkan aspek kemudahan operasi dan
pemeliharaan, kemudahan konstruksi, kebutuhan lahan, biaya investasi, serta biaya
operasi dan pemeliharaan. Berdasarkan hasil analisis, Alternatif 1 ditetapkan
sebagai konfigurasi terpilih, dengan rangkaian berupa penyaringan, koagulasi
hidraulis tipe cascade dengan pembubuhan PAC, flokulasi vertical baffled channel,
sedimentasi bak persegi panjang dengan tube settler, rapid sand filter bermedia pasir
dan activated carbon, serta desinfeksi melalui injeksi kaporit sebelum air ditampung
pada reservoir. Untuk jalur pengolahan lumpur dipilih kombinasi gravity thickener
dan sludge drying bed.
Unit sedimentasi dirancang untuk kapasitas akhir sebesar 210 L/detik dan dibagi
menjadi empat bak, sehingga masing-masing bak menerima debit sebesar 0,0525
m³/detik. Setiap bak sedimentasi memiliki dimensi 12 m × 4 m dengan kedalaman
total 5 m dan dilengkapi tube settler untuk meningkatkan luas pengendapan efektif
tanpa memperbesar kebutuhan lahan. Unit sedimentasi terdiri atas zona inlet, zona
pengendapan dan tube settler, zona outlet, serta zona lumpur. Pembagian menjadi
beberapa bak juga dimaksudkan untuk mempertahankan kontinuitas operasi ketika
salah satu bak harus dikuras atau menjalani pemeliharaan. Lumpur yang terkumpul
pada zona lumpur sedimentasi direncanakan dikuras secara berkala setiap 16 jam
untuk selanjutnya dialirkan menuju sistem pengolahan lumpur. Pengolahan lumpur
dirancang menggunakan dua unit gravity thickener berdiameter 4 m yang berfungsi
meningkatkan konsentrasi padatan sebelum proses pengeringan. Pada proses
pengentalan, kadar padatan lumpur ditingkatkan dari sekitar 1% menjadi 6%
sehingga volume lumpur berkurang dari sekitar 94,89 m³/hari menjadi 13,35
m³/hari. Gravity thickener menghasilkan supernatan sekitar 212,92 m³/hari yang
direncanakan dikembalikan ke bagian awal sistem pengolahan. Lumpur pekat
kemudian dialirkan menuju 10 bak sludge drying bed, masing-masing berdimensi
12 m × 3,5 m dengan kedalaman total 1,5 m dan periode pengeringan sekitar 10
hari. Pengeringan berlangsung melalui mekanisme drainase dan evaporasi sehingga
kadar air lumpur berkurang dan terbentuk sludge cake yang lebih mudah ditangani,
diangkut, maupun dimanfaatkan lebih lanjut. Perancangan pengelolaan lumpur
mengacu terutama pada SNI 7510:2011 dan dilengkapi dengan Standard Operating
Procedure (SOP) untuk unit sedimentasi, gravity thickener, dan sludge drying bed.
Dari aspek ekonomi, pembangunan IPA Kragilan direncanakan secara bertahap
dengan nilai investasi CAPEX Tahap I sebesar Rp21.169.106.408,70 pada tahun
2030 dan CAPEX Tahap II sebesar Rp16.252.572.466,06 pada tahun 2039. Biaya
operasional diperkirakan sebesar Rp4.480.601.041,15 per tahun. Hasil analisis
finansial menunjukkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp40.987.360.712,62,
Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,50, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 5%,
serta Payback Period sekitar 15 tahun operasional. Secara keseluruhan, rancangan
IPA Kragilan beserta sistem pengolahan lumpurnya diharapkan dapat mendukung
peningkatan kapasitas pelayanan air minum sekaligus menyediakan sistem
pengelolaan residu yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB