abstrak_Rahmatullah Abimanyu P [13322015]
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB I
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Bab II
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Bab III
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Pesatnya pembangunan gedung bertingkat menuntut sistem transportasi vertikal yang optimal, seperti lift. Evaluasi kinerja lift umumnya menggunakan Discrete Event Simulation (DES), namun pendekatan ini memiliki kekurangan akibat waktu yang diskrit dan faktor spasial yang diabaikan. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan instrumen simulasi berbasis Agent-Based Modeling (ABM) yang memodelkan penumpang dan lift sebagai agen otonom. Instrumen ini dirancang untuk mengintegrasikan Lift Performance Metrics (LPM) dan Quality of Service (QoS) dengan estimasi konsumsi energi listrik. Hasil pengujian komparasi pada arsitektur skala 15 lantai menunjukkan bahwa nilai-nilai metrik yang dihasilkan oleh DES terlalu ideal, sehingga dapat membuat rancangan sistem lift tidak sesuai. Hal ini diperkuat dengan hasil Average Waiting Time (AWT) dan Round Trip Time (RTT) pada ABM, yang membesar akibat hambatan spasial hingga 62,12% dan 200,73% masing-masing. Lingkungan ABM lalu difungsikan untuk membandingkan kinerja sistem Konvensional (KON) dan Destination Dispatch System (DDS) pada empat skenario puncak lalu lintas untuk arsitektur 15, 25, dan 35 lantai. Hasil komparasi menunjukkan bahwa efisiensi algoritma sangat sensitif terhadap elevasi bangunan dan tata letak fasilitas. Sistem DDS mengungguli KON pada skenario pagi hari dengan menekan AWT sebesar 78,26% di gedung 15 lantai. Pada skala menengah 25 lantai pada lalu lintas dua arah, algoritma KON yang lebih adaptif dan fleksibel dapat melayani penumpang 35,24% lebih cepat. Pada skenario bangunan 35 lantai, DDS menunjukkan keunggulan signifikan hingga 72,39% dari KON pada skenario malam hari. Pengelompokan destinasi DDS di tingkat tinggi juga menghemat energi listrik hingga 180 kWh dalam sehari. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan DDS merupakan solusi teknis yang optimal untuk bangunan skala tinggi. Kata
Perpustakaan Digital ITB