digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Marutaro Tawazuka Tanadi
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Penyelenggaraan event berskala besar telah menjadi salah satu strategi pembangunan yang banyak diterapkan oleh berbagai kota untuk meningkatkan citra daerah, memperkuat identitas kawasan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur baru. Dalam konteks tersebut, fasilitas olahraga, ruang pertunjukan, maupun bangunan pendukung lainnya umumnya dirancang sebagai bangunan permanen yang mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan selama event berlangsung. Namun, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan perbedaan mendasar antara karakter event yang bersifat sementara dengan umur layanan bangunan yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Akibatnya, setelah event selesai, berbagai fasilitas mengalami penurunan intensitas penggunaan karena fungsi, kapasitas, maupun konfigurasi ruang yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya biaya operasional dan pemeliharaan yang harus ditanggung meskipun tingkat pemanfaatan bangunan terus menurun. Dalam jangka panjang, bangunan-bangunan tersebut berpotensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, maupun fungsional hingga akhirnya menjadi aset terbengkalai yang membebani pengelolaan kota. Fenomena ini bukan merupakan kasus yang bersifat insidental, melainkan pola yang terus berulang pada berbagai penyelenggaraan event olahraga maupun kegiatan berskala besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berorientasi pada permanensi belum mampu menjawab kebutuhan ruang yang pada dasarnya bersifat temporal. Dengan kata lain, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengelolaan bangunan setelah event berakhir, tetapi juga pada paradigma perancangan yang belum mempertimbangkan dimensi waktu sebagai bagian integral dari proses desain. Berangkat dari kondisi tersebut, proyek ini mengusulkan perancangan micro-stadium temporer sebagai alternatif pendekatan arsitektur yang menempatkan hubungan antara durasi penyelenggaraan kegiatan dan siklus hidup bangunan sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Melalui penerapan konsep time-based architecture dan prinsip design for disassembly, bangunan dirancang agar dapat dibangun, digunakan, dibongkar, dipindahkan, maupun dirakit kembali sesuai kebutuhan penyelenggaraan event tanpa meninggalkan infrastruktur permanen yang berpotensi kehilangan fungsi di masa mendatang. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan ruang, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan, mengurangi potensi limbah konstruksi, serta meminimalkan risiko terbentuknya bangunan pasca-event yang tidak lagi produktif. Dengan demikian, proyek ini menawarkan paradigma alternatif dalam perancangan fasilitas event, yaitu pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada permanensi menuju arsitektur yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan mampu merespons hubungan antara waktu, penggunaan ruang, serta keberlanjutan infrastruktur secara lebih kontekstual.