Brandgang, lorong yang diwariskan dari sistem tata kota kolonial Belanda sebagai
jalur evakuasi kebakaran, di banyak permukiman Indonesia mengalami pergeseran
fungsi dan pemaknaan oleh penggunanya. Di RW 02 Kelurahan Gempolsari, Kota
Bandung, intervensi creative placemaking yang dilakukan komunitas karasa.bdg
berhasil mengubah kondisi fisik brandgang, namun tidak diikuti oleh terbentuknya
praktik perawatan kolektif yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan memahami
bagaimana warga memaknai dan menegosiasikan ruang brandgang, serta
merumuskan pendekatan desain yang dapat memfasilitasi transisi dari placemaking
menuju placekeeping. Dengan menggunakan kerangka de-scription dari Akrich
sebagai lensa analitis utama, penelitian ini menempatkan peneliti sebagai insider
researcher dan menerapkan pendekatan Research through Design yang
dioperasionalkan melalui Participatory Design dengan struktur siklus Action
Research. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu (1) Memahami Deskripsi melalui observasi spasial dan etnografi pada dua belas brandgang, (2)
Negosiasi Ko-skripsi melalui Diskusi Kelompok Terfokus yang dirancang terpisah
berdasarkan gender, dan (3) Perancangan Toolkit Partisipatif melalui tiga siklus
iterasi purwarupa toolkit partisipatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
brandgang secara konsisten berfungsi sebagai ruang tengah yang memediasi
kepentingan-kepentingan yang saling bertumpuk, baik pada tingkat regulasi,
personal, institusional, maupun kolektif. Proses ko-skripsi yang difasilitasi melalui
forum diskusi terbukti mampu menghasilkan kesepakatan kolektif mengenai fungsi
dan tanggung jawab perawatan ruang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam
toolkit partisipatif adaptif bernama Halaman Tengah. Penelitian ini berkontribusi
pada pengembangan konsep placekeeping berbasis komunitas, sekaligus
menawarkan prinsip desain yang dapat diadaptasi untuk ruang tengah komunal lain
di luar konteks kajian.
Perpustakaan Digital ITB