digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Brandgang, lorong yang diwariskan dari sistem tata kota kolonial Belanda sebagai jalur evakuasi kebakaran, di banyak permukiman Indonesia mengalami pergeseran fungsi dan pemaknaan oleh penggunanya. Di RW 02 Kelurahan Gempolsari, Kota Bandung, intervensi creative placemaking yang dilakukan komunitas karasa.bdg berhasil mengubah kondisi fisik brandgang, namun tidak diikuti oleh terbentuknya praktik perawatan kolektif yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana warga memaknai dan menegosiasikan ruang brandgang, serta merumuskan pendekatan desain yang dapat memfasilitasi transisi dari placemaking menuju placekeeping. Dengan menggunakan kerangka de-scription dari Akrich sebagai lensa analitis utama, penelitian ini menempatkan peneliti sebagai insider researcher dan menerapkan pendekatan Research through Design yang dioperasionalkan melalui Participatory Design dengan struktur siklus Action Research. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu (1) Memahami Deskripsi melalui observasi spasial dan etnografi pada dua belas brandgang, (2) Negosiasi Ko-skripsi melalui Diskusi Kelompok Terfokus yang dirancang terpisah berdasarkan gender, dan (3) Perancangan Toolkit Partisipatif melalui tiga siklus iterasi purwarupa toolkit partisipatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa brandgang secara konsisten berfungsi sebagai ruang tengah yang memediasi kepentingan-kepentingan yang saling bertumpuk, baik pada tingkat regulasi, personal, institusional, maupun kolektif. Proses ko-skripsi yang difasilitasi melalui forum diskusi terbukti mampu menghasilkan kesepakatan kolektif mengenai fungsi dan tanggung jawab perawatan ruang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam toolkit partisipatif adaptif bernama Halaman Tengah. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan konsep placekeeping berbasis komunitas, sekaligus menawarkan prinsip desain yang dapat diadaptasi untuk ruang tengah komunal lain di luar konteks kajian.