digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas jangka panjang di Indonesia yang menimbulkan gangguan fisik, kognitif, dan emosional secara signifikan. Pada fase pasca-serangan, khususnya dalam tiga bulan pertama, pasien berada pada periode krusial pemulihan yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi dan reorganisasi fungsi otak. Namun, sebagian besar fasilitas rehabilitasi masih berorientasi pada pendekatan klinis yang menitikberatkan pada aspek medis, sementara kualitas lingkungan ruang sebagai faktor pendukung psikologis dan motivasional belum dimaksimalkan. Kondisi ini menunjukkan perlunya perancangan pusat rehabilitasi yang tidak hanya mewadahi terapi fisik, tetapi juga mampu membangun suasana yang menenangkan, aman, dan mendorong keterlibatan aktif pasien dalam proses pemulihan. Tujuan perancangan ini adalah merancang interior Pusat Rehabilitasi Pasca-Stroke yang mendukung pemulihan fisik, kognitif, dan emosional pasien melalui pendekatan lingkungan terapeutik yang terintegrasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi literatur medis dan desain, analisis kebutuhan pengguna, observasi tipologi fasilitas rehabilitasi, serta penyusunan program ruang berdasarkan aktivitas terapi. Identifikasi proyek mencakup fasilitas terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, terapi komplementer, konsultasi multidisiplin, serta area pelatihan aktivitas sehari-hari yang dirancang sebagai simulasi lingkungan domestik dan publik. Konsep desain diterapkan melalui pengolahan tata ruang yang adaptif dan aksesibel, pengaturan sirkulasi yang aman bagi pengguna kursi roda, optimalisasi pencahayaan alami dan buatan yang lembut, penggunaan material bernuansa alami, serta integrasi elemen lanskap sebagai bagian dari pengalaman ruang. Implementasi desain diwujudkan dalam pembagian zona rehabilitasi aktif, zona konsultatif, zona relaksasi, dan zona transisi sosial yang saling terhubung dalam satu sistem pemulihan berkelanjutan. Area pelatihan aktivitas sehari-hari dirancang menyerupai kondisi nyata untuk melatih kembali kemandirian pasien, sementara ruang relaksasi dan taman terapeutik mendukung stabilitas emosional serta menurunkan tingkat stres selama proses rehabilitasi. Melalui pendekatan ini, ruang diposisikan sebagai elemen yang berperan aktif dalam membangun motivasi, rasa percaya diri, dan kualitas hidup pasien pasca-stroke. Perancangan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan fasilitas rehabilitasi yang lebih humanis, komprehensif, dan responsif terhadap kebutuhan fisik maupun psikologis pengguna.