Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas jangka panjang di
Indonesia yang menimbulkan gangguan fisik, kognitif, dan emosional secara signifikan. Pada
fase pasca-serangan, khususnya dalam tiga bulan pertama, pasien berada pada periode krusial
pemulihan yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi dan reorganisasi fungsi otak. Namun,
sebagian besar fasilitas rehabilitasi masih berorientasi pada pendekatan klinis yang
menitikberatkan pada aspek medis, sementara kualitas lingkungan ruang sebagai faktor
pendukung psikologis dan motivasional belum dimaksimalkan. Kondisi ini menunjukkan
perlunya perancangan pusat rehabilitasi yang tidak hanya mewadahi terapi fisik, tetapi juga
mampu membangun suasana yang menenangkan, aman, dan mendorong keterlibatan aktif
pasien dalam proses pemulihan.
Tujuan perancangan ini adalah merancang interior Pusat Rehabilitasi Pasca-Stroke yang
mendukung pemulihan fisik, kognitif, dan emosional pasien melalui pendekatan lingkungan
terapeutik yang terintegrasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif
dengan studi literatur medis dan desain, analisis kebutuhan pengguna, observasi tipologi
fasilitas rehabilitasi, serta penyusunan program ruang berdasarkan aktivitas terapi. Identifikasi
proyek mencakup fasilitas terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, terapi komplementer,
konsultasi multidisiplin, serta area pelatihan aktivitas sehari-hari yang dirancang sebagai
simulasi lingkungan domestik dan publik.
Konsep desain diterapkan melalui pengolahan tata ruang yang adaptif dan aksesibel,
pengaturan sirkulasi yang aman bagi pengguna kursi roda, optimalisasi pencahayaan alami dan
buatan yang lembut, penggunaan material bernuansa alami, serta integrasi elemen lanskap
sebagai bagian dari pengalaman ruang. Implementasi desain diwujudkan dalam pembagian
zona rehabilitasi aktif, zona konsultatif, zona relaksasi, dan zona transisi sosial yang saling
terhubung dalam satu sistem pemulihan berkelanjutan. Area pelatihan aktivitas sehari-hari
dirancang menyerupai kondisi nyata untuk melatih kembali kemandirian pasien, sementara
ruang relaksasi dan taman terapeutik mendukung stabilitas emosional serta menurunkan tingkat
stres selama proses rehabilitasi.
Melalui pendekatan ini, ruang diposisikan sebagai elemen yang berperan aktif dalam
membangun motivasi, rasa percaya diri, dan kualitas hidup pasien pasca-stroke. Perancangan
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan fasilitas rehabilitasi yang
lebih humanis, komprehensif, dan responsif terhadap kebutuhan fisik maupun psikologis
pengguna.
Perpustakaan Digital ITB