Penelitian ini menjelaskan tentang peran kepemimpinan adat/tradisional dalam pendekatan
pembangunan endogen pada Suku Sentani dan Suku Dani di Wilayah Adat Papua. Konsep
kepemimpinan lokal dalam pendekatan pembangunan endogen dimaknai sebagai sebuah
ekpresi dari tindakan kolektif (collective action) yang kemudian menjadi tindakan bersama
dari para pemimpin dalam mengambil keputusan bersama, sehingga tidak lagi didominasi
oleh pemimpin tertentu yang memiliki peran utama tetapi merupakan tindakan kolaboratif.
Sedangkan makna kepemimpinan lokal dalam pendekatan pembangunan endogen di
wilayah adat Papua memiliki makna sebagai pemimpin adat. Konsep Pemimpin adat
dalam pandangan ini merupakan kewenangan yang diperoleh seseorang yang berasal dari
Tuhan yang dapat dijalankan secara turun-temurun melalui pewarisan (ascription) dapat
juga diperoleh melalui pencapaian atau prestasi (achievement). Sehingga dengan melihat
pendekatan endogen (endogenous development) yang bertumpu pada aspek lokalitas
dengan mengutamakan kekuatan dan faktor-faktor karakteristik wilayah, potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia serta keterlibatan aktor lokal mengalami distorsi dalam
penerapan di wilayah yang memiliki karakteristik khusus, termasuk di wilayah adat Papua
yang lebih mengutamakan peranan pemimpin adat sebagai penggerak utama dalam
masyarakat dan pembangunan. Pemimpin adat dalam penelitian ini adalah Ondoafi/Kepala
Suku/Chief pada suku Sentani dan Big Man atau pria berwibawa pada Suku Dani dalam
Wilayah Adat Papua.ii
Kritikan terhadap pendekatan pembangunan endogen muncul karena yang dalam
penerapannya kurang melihat aktor lokal/pemimpin adat /tradisional dalam sistem politik
tradisional atau sistem kepemimpinan adat ondoafi/kepala suku/chief di Suku Sentani di
Wilayah Adat Mamta serta sistem politik tradisional atau tipe kepemimpinan adat pria
berwibawa atau Big Man pada Suku Dani di Wilayah Adat La Pago.
Temuan penelitian menunjukkan adanya dua tipe kepemimpinan adat yang memiliki
karakteristik dan mekanisme kerja yang berbeda. Pertama, sistem Ondoafi pada
masyarakat Sentani bersifat hierarkis dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga
mampu membangun kepatuhan masyarakat serta mendukung penyelesaian konflik dan
pelaksanaan program pembangunan secara efektif, terutama ketika pemimpin adat
dilibatkan sejak tahap perencanaan. Kedua, sistem Big Man pada masyarakat Dani
bersifat terbuka dan berbasis prestasi, dengan penekanan pada prinsip competitive
generosity dan redistribusi sumber daya. Sistem ini terbukti mampu mendorong
mobilisasi masyarakat dalam kegiatan komunal serta memfasilitasi pertukaran
pengetahuan yang mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Dengan demikian,
kepemimpinan adat di kedua wilayah beroperasi melalui dua peran yang berbeda, yaitu
peran konsultatif-ritualistik pada sistem Ondoafi dan peran kolaboratif-horizontal pada
sistem Big Man.
Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa efektivitas pembangunan endogen
di Papua bergantung pada pengakuan terhadap peran pemimpin adat sebagai aktor utama
dalam proses pembangunan, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik
sistem kepemimpinan di masing-masing wilayah. Sebagai rekomendasi, penelitian ini
mengusulkan perlunya pengakuan formal terhadap peran pemimpin adat dalam struktur
perencanaan pembangunan. Bagi sistem Ondoafi yang hierarkis, pemimpin adat perlu
diberikan posisi formal dalam forum perencanaan seperti Musrenbang dan Badan
Permusyawaratan Kampung, dengan mekanisme konsultasi berjenjang yang mengikuti
hierarki adat. Sementara bagi sistem Big Man yang berbasis prestasi, pendekatan yang
lebih sesuai adalah pelibatan secara fungsional berdasarkan keahlian spesifik, dengan
mekanisme kolaborasi yang bersifat horizontal dan adaptif. Kedua pendekatan ini
bertujuan untuk mengakui legitimasi ganda pemimpin adat, baik secara adat maupun
formal, serta mendorong fleksibilitas dalam implementasi program pembangunan.
Penguatan kelembagaan adat dan regenerasi kepemimpinan tradisional juga menjadi
bagian penting agar sistem kepemimpinan adat dapat berperan optimal dalam
menjembatani kepentingan masyarakat adat dengan sistem pembangunan formal di
Papua.
Perpustakaan Digital ITB