Pertumbuhan media sosial mengubah konsumen dari penerima pesan pasif menjadi pihak yang
ikut membentuk narasi merek, dan User-Generated Content (UGC) pun dikenal sebagai jenis
konten paling dipercaya karena dianggap sebagai murni pengalaman konsumen. Kondisi ini
mendorong munculnya Business-Generated Content (BGC) yang sengaja dibuat menyerupai
UGC agar tetap terlihat organik, seperti pada kampanye "Laundry Majapahit" Rinso di TikTok.
Namun, penelitian sebelumnya hanya fokus membahas UGC dari sisi purchase intention,
sementara peran perceived authenticity sebagai penghubung antara jenis konten dengan brand
trust, dengan perbedaan generasi yang memoderasi, masih jarang diuji secara empiris. Penelitian
ini bertujuan melihat perbedaan pengaruh UGC-styled BGC dan iklan resmi terhadap perceived
authenticity, sejauh mana perceived authenticity memediasi hubungan konten dengan brand
trust, serta apakah generasi (Gen Z vs Gen X) memoderasi hubungan tersebut. Data
dikumpulkan dari 246 responden aktif TikTok (139 Gen Z, 107 Gen X) melalui kuesioner online
dengan desain between-subject, lalu dianalisis memakai PLS-SEM dan Permutation MGA di
SmartPLS 4. Hasilnya, jenis konten terbukti memengaruhi perceived authenticity secara
signifikan, di mana UGC-styled BGC dinilai lebih autentik dibanding iklan resmi, dan pengaruh
ini sepenuhnya dimediasi oleh perceived authenticity. Menariknya, ditemukan pola crossover
antar generasi: Gen Z justru menilai iklan resmi lebih autentik karena transparansinya,
sedangkan Gen X lebih percaya pada UGC-styled BGC karena terasa seperti testimoni asli.
Temuan ini memperkuat SOR Theory dan Persuasion Knowledge Model, sekaligus menegaskan
bahwa tidak ada satu strategi konten yang cocok untuk semua generasi, sehingga brand perlu
menyesuaikan pendekatan komunikasinya berdasarkan segmen usia target audiens.
Kata Kunci: User-Generated Content, Business-Generated Content, perceived authenticity,
brand trust, perbedaan generasi, TikTok.
Perpustakaan Digital ITB