digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Alveus Saloy Mose
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Pisang Cavendish (Musa acuminata AAA group) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi, namun memiliki umur simpan relatif pendek karena merupakan buah klimakterik dengan peningkatan respirasi dan produksi etilen selama pematangan. Beeswax bersifat hidrofobik sehingga dapat membentuk penghalang terhadap kehilangan air dan pertukaran gas, sedangkan propolis mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas antimikroba dan antioksidan. Kombinasi keduanya berpotensi memberikan perlindungan selama penyimpanan untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan buah. Meskipun edible coating pada pisang telah banyak dikaji untuk mempertahankan mutu dan memperlambat pematangan, penelitian umumnya berfokus pada karakter fisik, fisiologis, dan kualitas buah, sedangkan respons molekuler, khususnya regulasi pasca transkripsi melalui microRNA (miRNA) dan gen targetnya (mRNA), masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas edible coating beeswax–propolis dalam memperlambat pematangan buah pisang Cavendish serta menganalisis perubahan ekspresi miRNA dan mRNA selama penyimpanan sebagai informasi awal mengenai respons molekuler terhadap perlakuan tersebut. Penelitian menggunakan buah pisang Cavendish kontrol dan buah dengan edible coating 15% beeswax–5% propolis, yang diamati pada hari ke-0, 1, 3, 5, dan 7. Pengamatan meliputi warna kulit, susut bobot, total padatan terlarut, kekerasan buah, laju respirasi, dan produksi etilen. Analisis molekuler meliputi isolasi RNA total dan miRNA, sintesis cDNA, validasi PCR, serta analisis ekspresi menggunakan reverse transcription quantitative polymerase chain reaction (RT-qPCR). Tingkat ekspresi relatif dihitung dengan metode comparative Ct (2???Ct), menggunakan Actin sebagai gen referensi mRNA, U6 sebagai gen referensi miRNA, dan K0 sebagai kalibrator. Hasil menunjukkan bahwa edible coating beeswax–propolis mempertahankan warna kulit buah, memperlambat peningkatan total padatan terlarut, mempertahankan kekerasan buah, serta menekan laju respirasi dan produksi etilen dibandingkan kontrol. Isolasi RNA total dan miRNA menghasilkan kualitas RNA yang memadai, sedangkan PCR memvalidasi amplifikasi SPL7, EBG14, macmiR156a, dan mac-miR166e. Analisis RT-qPCR menunjukkan perubahan ekspresi keempat target selama penyimpanan. Pada perlakuan beeswax–propolis, macmiR156a meningkat terutama pada fase awal hingga pertengahan penyimpanan, sedangkan SPL7 lebih rendah dibandingkan kontrol. mac-miR166e dan EBG14 juga menunjukkan perubahan ekspresi dengan waktu perubahan yang berbeda. Hasil ini memberikan informasi awal mengenai kemungkinan keterlibatan mac-miR156a dan mac-miR166e dalam pengaturan SPL7 dan EBG14 selama pematangan buah.