digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA M. Daffa Arafi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Pemanfaatan waktu kerja yang efisien merupakan aspek penting dari efisiensi operasional di sektor pertambangan, khususnya ketika pekerjaan diatur dalam skala besar dan sistem shift, dan produktivitas peralatan berpengaruh langsung terhadap produksi. Salah satu sumber inefisiensi yang umum adalah Internal Operational Delay (IOD) yang biasanya diabaikan sebagai waktu tidak produktif yang terjadi akibat aktivitas operasional internal. Pelaksanaan istirahat makan, di antara faktor-faktor lain yang menyebabkan IOD, telah ditemukan sebagai faktor utama yang dapat mengganggu alur kerja jika tidak dikelola dengan baik. Istirahat makan merupakan aspek yang terjadwal dan wajib dalam kerja shift, namun pada kenyataannya dapat mengakibatkan banyak waktu menganggur dan kurangnya pemanfaatan peralatan serta anomali dalam Primary Working Time (PWT). Studi ini bertujuan untuk menyelidiki implementasi istirahat makan dalam penundaan operasi dan untuk merancang cara metodis untuk meningkatkan operasi pertambangan di Indonesia. Latar belakang literatur menunjukkan bahwa tidak semua keterlambatan operasional memerlukan intervensi yang kompleks atau berskala besar. Sebaliknya, proses lain yang mudah dikelola dan rutin dilakukan seperti penjadwalan istirahat makan memiliki peluang peningkatan yang lebih baik dengan implementasi yang relatif rendah dan dosis operasi yang tinggi. Studi ini menggunakan teknik Six Sigma DMAIC (Define–Measure-Analyze-Improve-Control) untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menghilangkan implementasi istirahat makan secara efektif dan sistematis. Pada fase Define, masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara waktu operasi yang direncanakan dan waktu produktif, dan keterlambatan istirahat makan menjadi prioritas. Tahap Measure menerapkan data operasional, khususnya data PWT dan data IOD, serta pengendalian proses statistik dengan grafik kontrol Individuals-Moving Range (XmR) berdasarkan pedoman NIST untuk mengukur stabilitas dan variabilitas proses. Tahap Analyze menggunakan berbagai metode analisis, seperti analisis Pareto, Diagram Tulang Ikan, Validasi Akar Penyebab, dan Matriks Prioritas Penyebab (Dampak × Upaya), untuk mengenali dan mengkonfirmasi penyebab utama keterlambatan. Hasil menunjukkan bahwa implementasi istirahat makan, terutama penggunaan istirahat makan simultan dalam armada, menghasilkan efek gelombang di mana beberapa unit menganggur secara bersamaan. Hal ini mengakibatkan penurunan yang signifikan dalam penggunaan peralatan aktif dan jeda waktu dalam memulai kembali operasi setelah waktu istirahat. Analisis ini juga menetapkan faktor-faktor yang berkontribusi dalam dimensi orang, proses, mesin, material, dan lingkungan, tetapi faktor-faktor yang dominan dan dapat dikelola adalah faktor-faktor yang terkait dengan proses. Berdasarkan temuan ini, tahap Peningkatan menyiratkan pengenalan sistem istirahat makan berjenjang, di mana istirahat akan diatur secara berurutan, dan bukan secara bersamaan. Ini juga akan membantu dalam menawarkan kontinuitas operasional antara periode istirahat yang akan mengurangi waktu idle dan meningkatkan PWT secara keseluruhan. Analisis biaya-manfaat menunjukkan bahwa solusi yang disarankan akan memberikan hasil positif, yang membuktikan bahwa peningkatan operasi dapat diimplementasikan tanpa menghabiskan modal yang besar. Fase Pengendalian menunjukkan proses untuk mempertahankan peningkatan tersebut, termasuk pengembangan Standard Operating Procedure (SOP), pelacakan kinerja berdasarkan pengukuran kunci seperti PWT dan IOD, dan integrasi dengan sistem pengendalian operasional. Studi ini menunjukkan bahwa optimalisasi implementasi istirahat makan dapat digunakan untuk mengurangi Penundaan Operasional Internal secara signifikan dan meningkatkan PWT, yang menghasilkan kinerja produksi yang lebih stabil dan efisien. Studi ini bernilai karena menyediakan pendekatan yang layak dan berbasis data untuk mengatasi inefisiensi operasional melalui peningkatan proses secara sistematis. Selain itu, studi ini menyoroti perlunya fokus pada area operasi yang dapat dikendalikan sebagai titik awal peningkatan kinerja secara umum di lingkungan industri yang beragam. Hasil penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi bagi industri pertambangan dan industri lain yang menerapkan konsep kerja shift dan penggunaan peralatan sebagai faktor kunci dalam keberhasilan operasionalnya.