digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Palm Qauliyyah Maharani
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Kestabilan terowongan pada batuan sedimen umumnya dievaluasi menggunakan kriteria regangan kritis Sakurai (1981), namun batas regangan tersebut disusun dari beberapa data pengujian berbagai jenis batuan secara umum. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan parameter regangan yang khusus untuk batuan sedimen, mengingat parameter Sakurai (1981) bersumber dari data berbagai jenis batuan secara umum dan bukan berasal dari batuan di Indonesia. Penelitian ini menyusun hubungan regresi tegangan-regangan dari 1.977 data uji kuat tekan uniaksial (UCS) empat litologi batuan sedimen, yaitu sandstone, siltstone, claystone, dan mudstone dari tahun 2019 hingga 2025. Regresi dilakukan pada empat titik sepanjang kurva tegangan-regangan, yaitu penutupan retakan, 50 persen kuat puncak, regangan kritis, dan keruntuhan, sehingga diperoleh garis batas lower bound, mean regression, dan upper bound untuk tiap hubungan. Garis batas lower bound hasil regresi tersebut kemudian diterapkan pada model numerik Terowongan Samarinda menggunakan perangkat lunak RS2 pada lima kelas massa batuan dalam kondisi berpenyangga berupa shotcrete dan H-beam. Hasil pemodelan menunjukkan Kelas I dan II tetap berada di bawah batas regangan kritis, Kelas III mulai menunjukkan indikasi ketidakstabilan dini, sedangkan Kelas IV dan V masing-masing menunjukkan 60% dan 80% data telah melampaui batas tersebut, sejalan dengan hasil analisis support capacity plots yang menunjukkan kebutuhan kapasitas penyangga turut meningkat seiring menurunnya kualitas massa batuan. Batas regangan kritis yang diturunkan langsung dari data batuan sedimen ini terbukti lebih representatif digunakan sebagai parameter kestabilan terowongan pada batuan sedimen dibandingkan penerapan kriteria Sakurai (1981) secara umum.