BAB 1 - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Muhammad Rafif
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Penerapan alat berat listrik pada tambang bawah tanah berpotensi menurunkan
kebutuhan udara ventilasi karena alat listrik tidak menghasilkan gas buang dan
melepaskan panas jauh lebih sedikit dibandingkan alat diesel. Penelitian ini
bertujuan menentukan kebutuhan udara ventilasi pada kondisi penggunaan alat
berat diesel dan pada kondisi penggantiannya dengan alat berat listrik, serta
menganalisis perbedaan kebutuhan udara dan beban termal di tambang emas bawah
tanah PT XYZ. Kebutuhan udara dihitung berdasarkan Kepdirjen Minerba No.
185.K/37.04/DJB/2019 untuk alat diesel dan pendekatan Estimated Unit Ventilation
Requirement untuk alat listrik, kemudian enam skema armada disimulasikan
menggunakan perangkat lunak Ventsim Design 6 pada Daerah A, Daerah B, Daerah
C Lv 450 & 500, dan Daerah C Lv 600. Model divalidasi terhadap hasil pengukuran
lapangan bulan Juli 2026 dengan selisih parameter suhu dan kelembapan relatif
umumnya di bawah 10%. Perbaikan jaringan ventilasi menurunkan jumlah lokasi
yang mengalami resirkulasi dari sembilan lokasi (3–57%) menjadi satu lokasi (5%)
dan menurunkan suhu pada seluruh lokasi pengamatan sebesar 1,5–4,1 °C,
sehingga delapan dari sembilan lokasi berada dalam rentang suhu kerja 18–27 °C.
Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan udara pada kondisi seluruh alat diesel
sebesar 115,61 m3/s atau 132,96 m3/s setelah faktor kebocoran 15%, dengan suhu
front Daerah A mencapai 31,7 °C sehingga berada di atas rentang suhu kerja 18–27
°C. Elektrifikasi armada menurunkan kebutuhan udara hingga 58,91 m3/s atau turun
55,7%, menurunkan suhu front Daerah A menjadi 28,6 °C, dan memungkinkan
penurunan daya kipas terpasang dari 743,3 kW menjadi 450,5 kW, namun meningkatkan kelembapan relatif dari 55% menjadi 72,7%. Elektrifikasi jumbo
drill terbukti tidak efektif karena hanya memberikan selisih kebutuhan udara
sebesar 2,0%. Berdasarkan penilaian empat kriteria berupa kebutuhan udara, suhu
front, kelembapan relatif, dan daya kipas, skema elektrifikasi seluruh armada
kecuali jumbo drill direkomendasikan sebagai skema terbaik dengan catatan
perlunya evaluasi kenyamanan kerja berbasis suhu efektif atau WBGT.
Perpustakaan Digital ITB