Penjual e-commerce skala mikro yang melakukan pengadaan melalui platform B2B
cross-border dihadapkan pada keputusan pemilihan pemasok dan alokasi pesanan
yang harus mempertimbangkan berbagai batasan operasional, seperti minimum
order quantity, maximum order quantity, minimum order price, maximum order
price, keterbatasan modal kerja, dan kapasitas gudang. Selain menghasilkan alokasi
pesanan yang memenuhi berbagai batasan tersebut, keputusan pengadaan juga perlu
mengoptimalkan keuntungan yang diperoleh dari proses pengadaan. Oleh karena
itu, penelitian ini mengusulkan sistem pendukung keputusan Supplier Selection dan
Order Allocation (SSOA) yang mengintegrasikan metode multi-criteria decision
making dan optimasi matematis.
Penelitian ini mengembangkan tiga kebijakan supplier selection, yaitu Most-
Frequent, Shannon Entropy-TOPSIS, dan Best Worst Method (BWM)-TOPSIS,
yang kemudian diintegrasikan dengan model soft-demand Mixed Integer Linear
Programming (MILP) untuk menentukan alokasi pesanan yang memaksimalkan
nilai fungsi objektif dengan tetap memenuhi berbagai batasan operasional serta
mengakomodasi unmet demand dan overbuy. Evaluasi dilakukan menggunakan dua
periode pengadaan pada objek studi berupa penjual e-commerce skala mikro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model MILP berhasil menghasilkan
rekomendasi alokasi pesanan yang memenuhi batasan operasional pemasok
maupun penjual. Selain itu, perbedaan kebijakan supplier selection menghasilkan
kandidat pemasok yang berbeda dan berdampak terhadap hasil rekomendasi
pengadaan, termasuk nilai objective, estimasi profit, overbuy, dan unmet demand.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kualitas kandidat pemasok yang dihasilkan pada
tahap supplier selection memengaruhi kualitas keputusan order allocation yang
diperoleh.
Perpustakaan Digital ITB