digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) merupakan penyakit autoimun pada sistem saraf pusat yang ditandai oleh neuritis optik dan mielitis transversa. NMOSD sering salah didiagnosis sebagai multiple sclerosis (MS) karena memiliki manifestasi klinis yang serupa, meskipun kedua penyakit tersebut memerlukan terapi yang berbeda. Uji serologi berbasis sel untuk mendeteksi autoantibodi akuaporin-4 (AQP4) dapat digunakan untuk membedakan NMOSD dari MS. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sel HEK293T yang mengekspresikan protein AQP4 isoform M1 dan M23 sebagai komponen uji berbasis sel untuk diagnosis NMOSD. Penelitian ini mengonstruksi plasmid yang digunakan untuk ekspresi protein AQP4 isoform M1 dan M23 karena plasmid tersebut tidak tersedia secara komersial. Urutan gen AQP4 M1 dan M23 diperoleh dari GenBank dan disintesis secara komersial oleh GenScript ke dalam vektor pcDNA3.1(+)-C-EGFP. Prediksi in silico menunjukkan bahwa kedua protein akan terlokalisasi pada membran sel. Gen AQP4 M1 memiliki indeks adaptasi kodon sebesar 0,74 dan kandungan GC sebesar 49,3%, sedangkan gen AQP4 M23 memiliki indeks adaptasi kodon sebesar 0,73 dan kandungan GC sebesar 49,1%. Konstruksi plasmid menghasilkan pcDNA3.1(+)-C-EGFP_AQP4 M1 berukuran 7076 pb dan pcDNA3.1(+)-C-EGFP_AQP4 M23 berukuran 7010 pb. Analisis restriksi mengonfirmasi identitas kedua plasmid. Transfeksi plasmid ke dalam sel HEK293T menghasilkan ekspresi protein AQP4 isoform M1 dan M23 yang dikonfirmasi melalui mikroskop fluoresensi dan flow cytometry. Kedua metode menunjukkan sinyal fluoresensi EGFP pada sel HEK293T. Penelitian ini berhasil menghasilkan sel HEK293T yang mengekspresikan protein AQP4 isoform M1 dan M23 sebagai komponen uji berbasis sel. Penelitian selanjutnya perlu mengoptimasi kondisi transfeksi serta melakukan karakterisasi ekspresi dan lokalisasi membran protein AQP4-EGFP untuk mendukung pengembangannya sebagai komponen metode diagnosis NMOSD.