Tuberkulosis resisten obat (TB-RO) masih menjadi tantangan utama dalam pengendalian
tuberkulosis. Keberhasilan terapi TB-RO secara global terlaporkan masih rendah.
Linezolid merupakan komponen penting dalam regimen TB-RO karena efektivitasnya
yang tinggi terhadap Mycobacterium tuberculosis resisten. Namun penggunaannya sering
dibatasi oleh tingginya kejadian adverse drug reactions (ADR), terutama anemia,
neuropati perifer, dan neuritis optik. Variabilitas farmakokinetik antarindividu dapat
menyebabkan paparan obat yang berbeda meskipun diberikan dengan dosis standar. Hal
ini berpotensi meningkatkan risiko toksisitas atau menurunkan efektivitas terapi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan kadar linezolid dalam darah
dengan kejadian ADR dan luaran klinis serta mengembangkan model farmakokinetik
populasi (PopPK), dan mensimulasikan alternatif regimen dosis untuk optimasi terapi
pada pasien TB-RO. Penelitian ini merupakan studi longitudinal prospektif pada pasien
TB-RO di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo, Bogor. Identifikasi ADR
dilakukan menggunakan kuesioner tervalidasi dan evaluasi rekam medis. Kadar minimal
linezolid (Cmin) diukur pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pemodelan PopPK
dilakukan menggunakan Monolix®, dan simulasi Monte Carlo pada 1.000 pasien virtual
dilakukan menggunakan SimulX® dengan regimen dosis 300, 450, 600, 900, dan 1200
mg per hari. Target farmakodinamik yang digunakan adalah fAUC/MIC ?50–100,
dengan ambang toksisitas Cmin ?2 mg/L dan ?7 mg/L. Sebanyak 55 pasien (41%)
mengalami kombinasi anemia dan neuropati perifer, dengan sebagian besar ADR muncul
setelah 8–16 minggu terapi. Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna
antara kategori Cmin dan kejadian anemia, neuropati perifer, maupun neuritis optik. Model
PopPK terbaik adalah model satu kompartemen dengan absorpsi orde pertama (CL_pop
3,9 L/jam; V_pop 38,64 L). Simulasi menunjukkan bahwa regimen dosis 300–450
mg/hari dapat mempertahankan probabilitas pencapaian target farmakodinamik pada
MIC rendah dengan risiko toksisitas lebih rendah dibandingkan dosis lebih tinggi.
Pendekatan farmakokinetik populasi dan simulasi dosis memberikan dasar ilmiah untuk
pengembangan strategi precision dosing linezolid pada pasien TB-RO di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB