digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Juan Alfred Widjaya
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Pemanfaatan Large Language Model (LLM) sebagai dasar chatbot informasi iklim menghadapi tantangan dalam menjaga koherensi percakapan multi-putaran dan merencanakan langkah penyelesaian tugas secara mandiri. Model bahasa standar bersifat reaktif sehingga kesulitan menangani kueri kompleks yang membutuhkan pengumpulan data dari berbagai sumber secara berurutan, dan rentan kehilangan konteks ketika percakapan berlangsung lama. Penelitian ini mengembangkan dua modul inti dari sistem Agentic AI, yaitu Modul Kontekstual yang mengelola informasi percakapan serta Modul Perencana yang menggunakan pendekatan Plan-Execute-Verify (PEV) sebagai pusat kendali logika agen. Modul Kontekstual mengimplementasikan enam strategi manajemen konteks yang terbagi menjadi tiga paradigma, yaitu strategi pasif (Full History dan Sliding Window), strategi berbasis ringkasan LLM (LLM Summary, Fixed Window Summary, dan Buffer Summary), serta strategi berbasis kata kunci (Keyword Retrieval). Setiap strategi yang melibatkan LLM diuji dengan tiga model, yaitu Gemma 4 31B, GPT OSS 20B, dan Qwen 3.6 35B A3B, sehingga menghasilkan 21 konfigurasi. Evaluasi keenam strategi tersebut dirancang sebagai studi ablasi terhadap fungsi pemrosesan konteks, dengan Full History sebagai kondisi terablasi (riwayat dikirim tanpa pemrosesan) yang menjadi pembanding bagi strategi lainnya. Modul Perencana mengadopsi arsitektur PEV yang memodifikasi kerangka Plan-and-Act dengan menambahkan Modul Evaluasi yang melakukan verifikasi eksplisit terhadap kelengkapan informasi setelah seluruh langkah dieksekusi. Modul Perencana diuji dengan tiga model yang sama dan tiga varian prompt (Baseline, Chain-of-Thought, dan Minimal) sehingga menghasilkan sembilan konfigurasi. Evaluasi Modul Kontekstual dilakukan menggunakan benchmark yang terdiri dari 100 skenario percakapan multi-putaran dengan 1.025 checklist item yang dikategorikan ke dalam 16 tipe skenario berdasarkan kerangka LongMemEval. Hasil menunjukkan bahwa seluruh 21 konfigurasi mencapai Contextual Quality Score (CQS) di rentang 92,2% hingga 94,7% dengan selisih hanya 2,5 persen 6 poin. Konfigurasi LLM Summary dengan Gemma menempati posisi tertinggi (94,7%) sambil menghasilkan konteks ringkas (482 karakter rata-rata), sedangkan Sliding Window 4 menawarkan trade-off paling efisien dengan CQS 93,7% dan total token terendah (487.663 token). Evaluasi Modul Perencana menggunakan 100 kasus uji yang menghasilkan Success Rate keseluruhan sebesar 78,6%, dengan kegagalan eksekusi (kategori B, 13,2%) lebih tinggi dibandingkan kegagalan perencanaan (kategori C, 8,2%). Konfigurasi terbaik diraih oleh model Gemma dan GPT-OSS, keduanya menggunakan varian prompt Chain-of-Thought (Success Rate 82,0%). Hasil uji signifikansi statistik, yaitu uji Friedman dan Wilcoxon signed-rank untuk CQS serta Cochran's Q dan McNemar untuk Success Rate, menunjukkan bahwa perbedaan antar konfigurasi pada kedua modul belum mencapai taraf signifikan 0,05, sehingga kesimpulan mengenai keunggulan konfigurasi didasarkan pada konsistensi pola hasil. Temuan ini mengindikasikan bahwa bottleneck utama sistem terletak pada tahap eksekusi dan verifikasi, bukan pada kualitas konteks maupun kompleksitas strategi manajemen memori.