digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Tingginya prevalensi tuberkulosis (TB) di Indonesia, disertai meningkatnya kegagalan terapi, putus obat, dan mortalitas pasien, sangat dipengaruhi oleh kejadian Adverse Drug Reactions (ADRs) yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pasien TB. Sejalan dengan target WHO, SDGs dan pemerintah Indonesia, farmakovigilans memiliki peran penting dalam pengelolaan ADR obat antituberkulosis, sehingga penguatan sistem farmakovigilans menjadi kebutuhan penting dalam praktik klinis yang aman dan efektif. Apoteker memiliki peran strategis dalam layanan ini, khususnya melalui pelaporan berbasis aplikasi elektronik terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model aplikasi farmakovigilans pada pasien TB untuk memperkuat peran apoteker. Pengguna utama adalah apoteker yang memberikan layanan farmakovigilans TB. Penelitian menggunakan pendekatan Exploratory Sequential Mixed Methods yang terdiri dari empat tahap: (1) eksplorasi praktik farmakovigilans saat ini, (2) analisis kebutuhan pengguna, (3) perancangan dan pengembangan model aplikasi berbasis User?Centered Design (UCD), dan (4) evaluasi kelayakan model aplikasi. Penelitian kualitatif dalam mengeksplorasi kondisi terkini praktik pelayanan farmakovigilans pada pasien TB oleh apoteker, melibatkan 12 orang apoteker yang melakukan pelayanan pasien TB di rumah sakit atau puskesmas di 12 wilayah provinsi Indonesia. Berdasarkan studi kualitatif tersebut diperoleh 4 tema yang terdiri dari: pengetahuan apoteker tentang farmakovigilans terbatas, rendahnya keterlibatan apoteker dalam praktik farmakovigilans pasien TB, implementasi praktik farmakovigilans antituberkulosis pada pasien TB belum optimal, dan terdapat banyaknya hambatan apoteker dalam praktik farmakovigilans pada pasien TB. Hasil eksplorasi ini diterjemahkan menjadi 30 kebutuhan pengguna dan 6 domain persyaratan fungsional yang saling terkait, yaitu: sumber pengetahuan farmakovigilans, manajemen pengobatan pasien, deteksi dan penilaian ADR, pelaporan ADR, dukungan pengambilan keputusan klinis, serta dukungan komunikasi. Sebagian besar persyaratan dikategorikan sebagai “harus ada”. Prototipe akhir terdiri dari 6 domain fungsional, 5 fitur inti, dan 28 item menu fitur. Model aplikasi (prototipe) berbasis website yang dirancang dan dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna. Prototipe pelayanan farmakovigilans apoteker pada pasien TB ini diberi nama VigilansTBC. i Model prototipe VigilansTBC selanjutnya dievaluasi kelayakan model, yaitu: Uji performance oleh ahli informasi dan teknologi (IT) menunjukkan sistem bekerja secara fungsional dengan stabilitas yang cukup pada beban terbatas, memenuhi kebutuhan pengguna dengan kinerja yang andal dan konsisten. Uji functionality yang melibatkan 10 orang responden yaitu 2 ahli IT, 5 orang apoteker praktisi, dan 3 orang apoteker akademisi menunjukkan aplikasi telah memenuhi aspek kualitas perangkat lunak dalam hal fungsionalitas dan memiliki kemampuan untuk menjalankan semua fitur utama sesuai dengan kebutuhan pengguna. Uji usability dengan melibatkan 30 orang responden sebagai pengguna akhir yaitu apoteker di pelayanan, diperoleh hasil dengan kategori sangat baik dari semua aspek yang dinilai. Aspek satisfaction dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu 4,43. Hasil menunjukkan prototipe sistem pelayanan farmakovigilans yang dikembangkan memiliki tingkat usability yang baik dan mudah digunakan dalam setiap aspek yang diuji. Uji security menyatakan bahwa web aplikasi farmakovigilans TB telah memenuhi standar keamanan. Aplikasi berbasis website berhasil dikembangkan dengan nama VigilansTBC dengan fitur yang mendukung kebutuhan apoteker dan bekerja dengan baik untuk praktik pelayanan farmakovigilans pada pasien TB sehingga diharapkan aplikasi ini digunakan sebagai penguat peran strategis apoteker. Keterbatasan penelitian ini menjadi arah pengembangan lanjutan. Fokus pada apoteker memberikan kedalaman analisis, namun perlu perluasan cakupan untuk meningkatkan generalisasi. Pengujian sistem pada beban awal menunjukkan perlunya uji skala besar untuk memastikan stabilitas dan keandalan sistem. Perlu dilakukan uji reliability serta uji implementasi jangka panjang untuk menilai dampak terhadap praktik farmakovigilans. Uji implementasi di fasilitas pelayanan kesehatan dan mengukur evaluasi pengetahuan, sikap dan perilaku apoteker sebelum dan sesudah penggunaan aplikasi. Selain itu, aplikasi telah mendukung penilaian, pencatatan dan pelaporan ADR secara digital yang masih bersifat lokal, sehingga diperlukan integrasi dengan sistem kesehatan nasional. Penguatan kapasitas sistem dan data serta integrasi dengan sistem informasi kesehatan untuk memastikan keberlanjutan dan dampak yang lebih luas.