Tingginya prevalensi tuberkulosis (TB) di Indonesia, disertai meningkatnya
kegagalan terapi, putus obat, dan mortalitas pasien, sangat dipengaruhi oleh
kejadian Adverse Drug Reactions (ADRs) yang menjadi salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pasien TB. Sejalan dengan target WHO, SDGs dan
pemerintah Indonesia, farmakovigilans memiliki peran penting dalam pengelolaan
ADR obat antituberkulosis, sehingga penguatan sistem farmakovigilans menjadi
kebutuhan penting dalam praktik klinis yang aman dan efektif. Apoteker memiliki
peran strategis dalam layanan ini, khususnya melalui pelaporan berbasis aplikasi
elektronik terstruktur. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model aplikasi
farmakovigilans pada pasien TB untuk memperkuat peran apoteker. Pengguna
utama adalah apoteker yang memberikan layanan farmakovigilans TB. Penelitian
menggunakan pendekatan Exploratory Sequential Mixed Methods yang terdiri dari
empat tahap: (1) eksplorasi praktik farmakovigilans saat ini, (2) analisis kebutuhan
pengguna, (3) perancangan dan pengembangan model aplikasi berbasis User?Centered Design (UCD), dan (4) evaluasi kelayakan model aplikasi.
Penelitian kualitatif dalam mengeksplorasi kondisi terkini praktik pelayanan
farmakovigilans pada pasien TB oleh apoteker, melibatkan 12 orang apoteker yang
melakukan pelayanan pasien TB di rumah sakit atau puskesmas di 12 wilayah
provinsi Indonesia. Berdasarkan studi kualitatif tersebut diperoleh 4 tema yang
terdiri dari: pengetahuan apoteker tentang farmakovigilans terbatas, rendahnya
keterlibatan apoteker dalam praktik farmakovigilans pasien TB, implementasi
praktik farmakovigilans antituberkulosis pada pasien TB belum optimal, dan
terdapat banyaknya hambatan apoteker dalam praktik farmakovigilans pada pasien
TB. Hasil eksplorasi ini diterjemahkan menjadi 30 kebutuhan pengguna dan 6
domain persyaratan fungsional yang saling terkait, yaitu: sumber pengetahuan
farmakovigilans, manajemen pengobatan pasien, deteksi dan penilaian ADR,
pelaporan ADR, dukungan pengambilan keputusan klinis, serta dukungan
komunikasi. Sebagian besar persyaratan dikategorikan sebagai “harus ada”.
Prototipe akhir terdiri dari 6 domain fungsional, 5 fitur inti, dan 28 item menu fitur.
Model aplikasi (prototipe) berbasis website yang dirancang dan dikembangkan
sesuai kebutuhan pengguna. Prototipe pelayanan farmakovigilans apoteker pada
pasien TB ini diberi nama VigilansTBC.
i
Model prototipe VigilansTBC selanjutnya dievaluasi kelayakan model, yaitu: Uji
performance oleh ahli informasi dan teknologi (IT) menunjukkan sistem bekerja
secara fungsional dengan stabilitas yang cukup pada beban terbatas, memenuhi
kebutuhan pengguna dengan kinerja yang andal dan konsisten. Uji functionality
yang melibatkan 10 orang responden yaitu 2 ahli IT, 5 orang apoteker praktisi, dan
3 orang apoteker akademisi menunjukkan aplikasi telah memenuhi aspek kualitas
perangkat lunak dalam hal fungsionalitas dan memiliki kemampuan untuk
menjalankan semua fitur utama sesuai dengan kebutuhan pengguna. Uji usability
dengan melibatkan 30 orang responden sebagai pengguna akhir yaitu apoteker di
pelayanan, diperoleh hasil dengan kategori sangat baik dari semua aspek yang
dinilai. Aspek satisfaction dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu 4,43. Hasil
menunjukkan prototipe sistem pelayanan farmakovigilans yang dikembangkan
memiliki tingkat usability yang baik dan mudah digunakan dalam setiap aspek yang
diuji. Uji security menyatakan bahwa web aplikasi farmakovigilans TB telah
memenuhi standar keamanan. Aplikasi berbasis website berhasil dikembangkan
dengan nama VigilansTBC dengan fitur yang mendukung kebutuhan apoteker dan
bekerja dengan baik untuk praktik pelayanan farmakovigilans pada pasien TB
sehingga diharapkan aplikasi ini digunakan sebagai penguat peran strategis
apoteker.
Keterbatasan penelitian ini menjadi arah pengembangan lanjutan. Fokus pada
apoteker memberikan kedalaman analisis, namun perlu perluasan cakupan untuk
meningkatkan generalisasi. Pengujian sistem pada beban awal menunjukkan
perlunya uji skala besar untuk memastikan stabilitas dan keandalan sistem. Perlu
dilakukan uji reliability serta uji implementasi jangka panjang untuk menilai
dampak terhadap praktik farmakovigilans. Uji implementasi di fasilitas pelayanan
kesehatan dan mengukur evaluasi pengetahuan, sikap dan perilaku apoteker
sebelum dan sesudah penggunaan aplikasi. Selain itu, aplikasi telah mendukung
penilaian, pencatatan dan pelaporan ADR secara digital yang masih bersifat lokal,
sehingga diperlukan integrasi dengan sistem kesehatan nasional. Penguatan
kapasitas sistem dan data serta integrasi dengan sistem informasi kesehatan untuk
memastikan keberlanjutan dan dampak yang lebih luas.
Perpustakaan Digital ITB