digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Matematika tidak diajarkan secara eksplisit di lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren salafiyah tradisional. Satu-satunya bagian dari matematika yang diajarkan secara eksplisit adalah logika (mantik). Usaha untuk mengajarkan sesuatu yang penting, seperti logika, dengan cara terbaik perlu dilakukan. Perlu ada inovasi atau pembaruan dalam penyampaian materi logika agar pembelajaran logika dapat lebih bermakna dan logika tidak hanya dipandang sebagai kumpulan teori yang wajib diterima dan wajib dihafal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kurikulum logika yang inovatif untuk kemudian dikaji keefektifannya. Proses penalaran, seperti menyusun atau memvalidasi argumen, merupakan proses yang abstrak. Memvisualisasikan proses tersebut dalam bentuk diagram berpotensi untuk membantu siswa memahami prosesnya dengan lebih baik. Memvisualisasikan proses penalaran dalam bentuk diagram membutuhkan pemahaman terkait konsep himpunan. Oleh karena itu, kurikulum logika yang dikembangkan pada penelitian ini berbasis pada teori himpunan. Dengan menggunakan pendekatan backword design dan question-based teaching, penelitian ini menghasilkan 3 produk utama, yaitu desain kurikulum, buku untuk siswa, dan buku untuk guru. Desain kurikulum terdiri dari 3 bagian utama, yaitu desired results, assessment evidence, dan learning activities. Buku yang dikembangkan terdiri dari 10 bab, sudah dilengkapi dengan latihan soal dan asesmen sumatif. Sepuluh bab yang dibahas meliputi logika dan sejarah perkembangannya, pernyataan, kuantor, nilai kebenaran, himpunan, diagram LEV, merepresentasikan pernyataan dalam bentuk diagram LEV, membuat kesimpulan, menyusun argumen sebagai bukti kebenaran, serta paradox dan logical fallacy. Keefektifan produk dievaluasi menggunakan 2 jenis metode quasi-experimental design, yaitu one-group pretest-posttest design dan static-group comparison design. Data dianalisis menggunakan ukuran-ukuran pada statistika deskriptif seperti rata-rata, median, dan modus. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa kelas eksperimen naik sebesar 77,78%. Rata-rata skor posttest siswa kelas eksperimen juga tidak lebih rendah dari rata-rata skor siswa kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kurikulum yang dikembangkan cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan logika siswa.