digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Wawancara daring memberikan fleksibilitas dalam proses rekrutmen, tetapi membatasi kemampuan pewawancara untuk mengawasi lingkungan dan perilaku kandidat secara langsung. Keterbatasan ini menyulitkan identifikasi kejadian seperti kandidat meninggalkan tampilan kamera, menerima bantuan orang lain, menggunakan telepon seluler, mengalihkan perhatian dari layar, atau memanfaatkan teknologi yang mengubah arah pandang pada video. Tugas akhir ini mengembangkan komponen analisis video untuk menandai indikasi tersebut pada rekaman wawancara dalam sistem interviewer chatbot. Komponen ini tidak menentukan bahwa kandidat melakukan kecurangan secara otomatis, tetapi menyediakan penanda waktu untuk membantu evaluator meninjau bagian rekaman yang perlu diperhatikan. Rekaman wawancara diproses menjadi cuplikan gambar yang dianalisis oleh beberapa modul sesuai dengan jenis indikasinya. Analisis mencakup keberadaan dan posisi wajah, jumlah orang, keberadaan telepon seluler, perubahan orientasi kepala, serta pola visual pada area mata yang dapat menunjukkan manipulasi arah pandang. Prediksi dari cuplikan gambar atau klip pendek kemudian disaring berdasarkan kesinambungan waktu dan digabungkan menjadi rentang kejadian yang memiliki waktu mulai dan selesai. Setiap indikator dievaluasi secara terpisah menggunakan data berlabel agar kemampuan dan sumber kesalahannya dapat dianalisis. Evaluasi orientasi kepala menghasilkan nilai mean absolute error seluruh sumbu sebesar 4,8489 derajat. Deteksi perubahan arah kepala memperoleh F1 kejadian sebesar 0,6806. Deteksi manipulasi arah pandang memperoleh F1 klip sebesar 0,8486, tetapi F1 kejadian sebesar 0,4828 karena masih menghasilkan banyak kejadian positif palsu. Deteksi penggunaan telepon seluler memperoleh F1 kejadian sebesar 0,5714 dan masih melewatkan sebagian kejadian yang terdapat pada data uji. Hasil tersebut menunjukkan bahwa komponen yang dikembangkan telah mampu mengubah hasil analisis video menjadi daftar kejadian terstruktur untuk peninjauan manusia. Namun, hasil kuantitatifnya masih perlu diperlakukan sebagai evaluasi awal terkontrol karena ketepatan anotasi, jumlah dan keragaman data, serta kesalahan berupa kejadian positif palsu dan kejadian terlewat masih perlu diperbaiki.