Deteksi dini pada manajemen ulkus kaki diabetes (UKD) yang komprehensif
menjadi kunci keberhasilan pengobatan. Berbagai kemajuan dalam strategi
pencegahan dan terapi telah dicapai namun aksesibilitasnya masih terkendala oleh
mahalnya tindakan, wound dressing, dan lamanya masa perawatan. Untuk itu,
upaya pencarian strategi alternatif yang lebih terjangkau masih sangat dibutuhkan.
Salah satunya adalah penyediaan kit perawatan luka diabetes yang ekonomis berupa
dressing hidrogel berbahan alam yang komponennya melimpah di alam. Beberapa
di antaranya adalah kappa karagenan, madu, dan pegagan (Centella asiatica, Linn).
Kappa karagenan merupakan polimer alami yang biokompatibel untuk aplikasi
topikal pada luka dan berpotensi meningkatkan proses penyembuhan. Madu telah
lama dikenal untuk perawatan luka dan memiliki sifat antibakteri. Sementara itu,
pegagan diketahui memiliki sifat antibakteri, antibiofilm, serta merangsang proses
deposisi kolagen di jaringan.
Studi pendahuluan pengembangan sediaan hidrogel amorf berbasis kappa
karagenan-asam hialuronat yang dikombinasi madu dan ekstrak pegagan
menunjukkan potensi sehingga diperlukan pengembangan sediaan film hidrogel
yang dapat mensuport perawatan luka secara maksimal melalui kemampuannya
menyerap eksudat luka, sembari melepaskan komponen aktif dan bersifat fleksibel.
Studi ini terbatas pada pengembangan formula optimal dan efektivitas
penyembuhan luka. Elaborasi mekanisme kerja secara multitarget dan evaluasi
keamanan belum dilakukan sehingga memerlukan penelitian lanjutan terkait
keduanya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan film hidrogel yang
mengandung ketiga komponen tersebut, mengelaborasi mekanisme kerja
multitarget dari sediaan film hidrogel dalam menstimulasi proses penyembuhan
melalui pendekatan histologi dan imunohistokimia. Tujuan lainnya adalah
mengevaluasi keamanan kedua sediaan hidrogel melalui uji iritasi, uji toksisitas
dermal akut dan berulang selama 28 hari. Penelitian ini juga bertujuan untuk
melakukan studi klinis terkait efek penyembuhan luka, perubahan kualitas hidup
serta evaluasi farmakoekonomi berbasis cost effective analysis (CEA) terkait
intervensi yang dijalani pasien sebelum dan sesudah menjalani perawatan luka
dengan sediaan film hidrogel pada pasien UKD serta perbandingan penurunan
ukuran luka selama periode yang sama.
Hasil pengembangan film hidrogel diperoleh formula optimal yang terdiri dari
kappa karagenan 2% b/b, sorbitol 6% b/b, KCl (0,5N) 4%, madu 10% b/b dan
ekstrak pegagan 0,5% b/b. Formula tersebut menghasilkan film hidrogel yang tipis
(0,5±0,1 mm) dan transparan, memiliki fleksibilitas (modulus elastis sebesar
1,5±0,9 N/mm
2
, elongasi saat putus sebesar 136,25±10,23%). Kemampuannya
menyerap cairan mencapai 233,27±4,73% dari bobot semula setelah 24 jam dan
melepaskan komponen aktifnya dengan cepat yaitu ekstrak pegagan dan madu
berturut-turut sebesar 93,35±2,19% dan 104,79±0,91 dalam waktu 4 jam. Aplikasi
film hidrogel dengan variasi konsentrasi ekstrak pegagan sebesar 0,5% dan 1% b/b
pada model luka eksisi secara signifikan mempercepat penyembuhan luka eksisi
secara signifikan pada hari ke- 1 s/d hari ke-3 dan hari ke-14 s/d hari ke-21. Aplikasi
film hidrogel yang mengandung ekstrak pegagan 1% b/b menunjukkan ekspresi
marker proinflamasi terendah pada hari ke-3 dan ekspresi kolagen tipe I tertinggi di
hari ke-21. Akselerasi penyembuhan luka terjadi melalui aksi multitarget yaitu
penghambatan kontaminasi bakteri secara fisik, penyerapan eksudat luka sembari
melepaskan madu dan ekstrak pegagan ke dasar luka serta mempertahankan kondisi
lembab Hal ini menciptakan kondisi hipertonis yang menghambat pertumbuhan
bakteri. Kandungan asiatikosida, madekosida, asam asiatat, dan asam madekasat
ekstrak pegagan memiliki aktivitas antibiofilm dan antibakteri yang akan
menurunkan beban neutrofil sehingga mempercepat berakhirnya fase inflamasi dan
memasuki fase proliferasi. Stimulasi perubahan kolagen tipe III menjadi tipe I oleh
asiatikosida mempercepat deposisi kolagen yang meningkatkan maturasi jaringan.
Paparan dermal selama 1 jam, 24 jam maupun berulang selama 28 hari masingmasing sediaan hidrogel dari komponen kit tidak menunjukkan gejala iritasi,
perubahan prilaku dan berat badan secara signifikan pada tikus percobaan selama
pengujian. Indeks organ dari limpa, jantung, paru-paru, otak dan ginjal setelah
pengujian toksisitas dermal akut dan berulang selama 28 hari tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan terhadap antar kelompok perlakuan. Paparan berulang
selama 28 hari tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap fungsi hati dan
hematologi secara umum. Tidak terlihat adanya kerusakan jaringan epidermis kulit
pada paparan ulang selama 28 hari tersebut.
Penggunaan secara klinis sediaan film hidrogel yang mengandung ekstrak pegagan
1% pada seorang pasien UKD tingkat 2 skala Wagner 1 kali sehari bersama dengan
manajemen glukosa mandiri dan debridement 1 x perminggu selama 12 minggu
sediaan film hidrogel membantu penyembuhan ulkus kaki diabetes. Jaringan
nekrotik, eksudat dan malodor pada luka berkurang drastis setelah 5 minggu
perawatan dan ukuran luka berkurang sebesar 53, 52% dari ukuran awal. Proses
reepitalisasi seiring waktu mengalami peningkatan. Jaringan epitel dominan
terbentuk setelah 7 minggu perawatan sampai luka tertutup sempurna pada minggu
ke-12. Pasien mengalami peningkatan kualitas hidup dan intervensi baru yang
dijalaninya menghasilkan biaya perawatan 50,37% lebih rendah serta penurunan
ukuran luka yang lebih besar dibanding intervensi awal pada durasi yang sama (6
minggu) yaitu 29,31% versus 63,32%. Hasil ini menunjukkan bahwa sediaan
hidrogel film tersebut berpotensi sebagai kandidat dressing luka ekonomis untuk
UKD, tetapi diperlukan uji toksisitas dermal jangka panjang (>90 hari) dan studi
klinis berskala lebih besar untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam pengobatan
UKD.
Perpustakaan Digital ITB