digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Deteksi dini pada manajemen ulkus kaki diabetes (UKD) yang komprehensif menjadi kunci keberhasilan pengobatan. Berbagai kemajuan dalam strategi pencegahan dan terapi telah dicapai namun aksesibilitasnya masih terkendala oleh mahalnya tindakan, wound dressing, dan lamanya masa perawatan. Untuk itu, upaya pencarian strategi alternatif yang lebih terjangkau masih sangat dibutuhkan. Salah satunya adalah penyediaan kit perawatan luka diabetes yang ekonomis berupa dressing hidrogel berbahan alam yang komponennya melimpah di alam. Beberapa di antaranya adalah kappa karagenan, madu, dan pegagan (Centella asiatica, Linn). Kappa karagenan merupakan polimer alami yang biokompatibel untuk aplikasi topikal pada luka dan berpotensi meningkatkan proses penyembuhan. Madu telah lama dikenal untuk perawatan luka dan memiliki sifat antibakteri. Sementara itu, pegagan diketahui memiliki sifat antibakteri, antibiofilm, serta merangsang proses deposisi kolagen di jaringan. Studi pendahuluan pengembangan sediaan hidrogel amorf berbasis kappa karagenan-asam hialuronat yang dikombinasi madu dan ekstrak pegagan menunjukkan potensi sehingga diperlukan pengembangan sediaan film hidrogel yang dapat mensuport perawatan luka secara maksimal melalui kemampuannya menyerap eksudat luka, sembari melepaskan komponen aktif dan bersifat fleksibel. Studi ini terbatas pada pengembangan formula optimal dan efektivitas penyembuhan luka. Elaborasi mekanisme kerja secara multitarget dan evaluasi keamanan belum dilakukan sehingga memerlukan penelitian lanjutan terkait keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan film hidrogel yang mengandung ketiga komponen tersebut, mengelaborasi mekanisme kerja multitarget dari sediaan film hidrogel dalam menstimulasi proses penyembuhan melalui pendekatan histologi dan imunohistokimia. Tujuan lainnya adalah mengevaluasi keamanan kedua sediaan hidrogel melalui uji iritasi, uji toksisitas dermal akut dan berulang selama 28 hari. Penelitian ini juga bertujuan untuk melakukan studi klinis terkait efek penyembuhan luka, perubahan kualitas hidup serta evaluasi farmakoekonomi berbasis cost effective analysis (CEA) terkait intervensi yang dijalani pasien sebelum dan sesudah menjalani perawatan luka dengan sediaan film hidrogel pada pasien UKD serta perbandingan penurunan ukuran luka selama periode yang sama. Hasil pengembangan film hidrogel diperoleh formula optimal yang terdiri dari kappa karagenan 2% b/b, sorbitol 6% b/b, KCl (0,5N) 4%, madu 10% b/b dan ekstrak pegagan 0,5% b/b. Formula tersebut menghasilkan film hidrogel yang tipis (0,5±0,1 mm) dan transparan, memiliki fleksibilitas (modulus elastis sebesar 1,5±0,9 N/mm 2 , elongasi saat putus sebesar 136,25±10,23%). Kemampuannya menyerap cairan mencapai 233,27±4,73% dari bobot semula setelah 24 jam dan melepaskan komponen aktifnya dengan cepat yaitu ekstrak pegagan dan madu berturut-turut sebesar 93,35±2,19% dan 104,79±0,91 dalam waktu 4 jam. Aplikasi film hidrogel dengan variasi konsentrasi ekstrak pegagan sebesar 0,5% dan 1% b/b pada model luka eksisi secara signifikan mempercepat penyembuhan luka eksisi secara signifikan pada hari ke- 1 s/d hari ke-3 dan hari ke-14 s/d hari ke-21. Aplikasi film hidrogel yang mengandung ekstrak pegagan 1% b/b menunjukkan ekspresi marker proinflamasi terendah pada hari ke-3 dan ekspresi kolagen tipe I tertinggi di hari ke-21. Akselerasi penyembuhan luka terjadi melalui aksi multitarget yaitu penghambatan kontaminasi bakteri secara fisik, penyerapan eksudat luka sembari melepaskan madu dan ekstrak pegagan ke dasar luka serta mempertahankan kondisi lembab Hal ini menciptakan kondisi hipertonis yang menghambat pertumbuhan bakteri. Kandungan asiatikosida, madekosida, asam asiatat, dan asam madekasat ekstrak pegagan memiliki aktivitas antibiofilm dan antibakteri yang akan menurunkan beban neutrofil sehingga mempercepat berakhirnya fase inflamasi dan memasuki fase proliferasi. Stimulasi perubahan kolagen tipe III menjadi tipe I oleh asiatikosida mempercepat deposisi kolagen yang meningkatkan maturasi jaringan. Paparan dermal selama 1 jam, 24 jam maupun berulang selama 28 hari masingmasing sediaan hidrogel dari komponen kit tidak menunjukkan gejala iritasi, perubahan prilaku dan berat badan secara signifikan pada tikus percobaan selama pengujian. Indeks organ dari limpa, jantung, paru-paru, otak dan ginjal setelah pengujian toksisitas dermal akut dan berulang selama 28 hari tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap antar kelompok perlakuan. Paparan berulang selama 28 hari tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap fungsi hati dan hematologi secara umum. Tidak terlihat adanya kerusakan jaringan epidermis kulit pada paparan ulang selama 28 hari tersebut. Penggunaan secara klinis sediaan film hidrogel yang mengandung ekstrak pegagan 1% pada seorang pasien UKD tingkat 2 skala Wagner 1 kali sehari bersama dengan manajemen glukosa mandiri dan debridement 1 x perminggu selama 12 minggu sediaan film hidrogel membantu penyembuhan ulkus kaki diabetes. Jaringan nekrotik, eksudat dan malodor pada luka berkurang drastis setelah 5 minggu perawatan dan ukuran luka berkurang sebesar 53, 52% dari ukuran awal. Proses reepitalisasi seiring waktu mengalami peningkatan. Jaringan epitel dominan terbentuk setelah 7 minggu perawatan sampai luka tertutup sempurna pada minggu ke-12. Pasien mengalami peningkatan kualitas hidup dan intervensi baru yang dijalaninya menghasilkan biaya perawatan 50,37% lebih rendah serta penurunan ukuran luka yang lebih besar dibanding intervensi awal pada durasi yang sama (6 minggu) yaitu 29,31% versus 63,32%. Hasil ini menunjukkan bahwa sediaan hidrogel film tersebut berpotensi sebagai kandidat dressing luka ekonomis untuk UKD, tetapi diperlukan uji toksisitas dermal jangka panjang (>90 hari) dan studi klinis berskala lebih besar untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam pengobatan UKD.