Transformasi digital yang berkembang pesat mendorong organisasi untuk menyelaraskan strategi bisnis dan strategi Teknologi Informasi (TI) menggunakan pendekatan Enterprise Architecture (EA). Namun, pada tingkat operasional, organisasi
sering menghadapi kendala dalam menerapkan tata kelola arsitektur (architecture
governance), khususnya dalam mengevaluasi implikasi perubahan sistem sebelum
tahap implementasi dilakukan. Tugas Akhir ini dilakukan di Perusahaan XYZ, sebuah perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang memiliki (maturity
level) EA pada level 2 (Under Development) berdasarkan Architecture Capability
Maturity Model (ACMM) dari TOGAF. Pada kondisi saat ini, proses EA Impact
Analysis di Perusahaan XYZ belum terdefinisi secara jelas, belum terstandarisasi,
dan analisis yang dilakukan masih terbatas pada domain business, applcication, dan
data, tanpa mengintegrasikan domain infrastructure dan security. Keterbatasan ini
menimbulkan risiko inkonsistensi arsitektur dan ketergantungan yang tinggi terhadap individu.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan perancangan kerangka kerja dan
instrumen standar berupa mekanisme dan template EA Impact Analysis yang didukung oleh platform SAP LeanIX sebagai repositori arsitektur terpusat. Berdasarkan
prinsip TOGAF, cakupan EA Impact Analysis pada kondisi target diperluas menjadi lima domain utama dengan mengintegrasikan infrastructure dan security secara
formal. Penegasan akuntabilitas peran lintas fungsi dalam pengisian dokumen juga
diatur secara terstruktur menggunakan pendekatan matriks RACI.
Evaluasi terhadap solusi yang dirancang dilakukan melalui metode expert validation
berupa wawancara simulasi berbasis skenario dengan stakeholder internal dan ahli
profesional, dan penyebaran kuesioner likert scale lima poin untuk mengukur kebutuhan fungsional dan non-fungsional. Hasil evaluasi kebutuhan fungsional menunjukkan bahwa seluruh parameter yaitu ketersediaan, kelayakan eksekusi logis, dan
kepatuhan peran telah terpenuhi dengan baik, meskipun terdapat beberapa catatan
penyesuaian operasional untuk mitigasi risiko penumpukan beban kerja (bottleneck).
Sementara itu, evaluasi kebutuhan non-fungsional menghasilkan nilai rata-rata keseluruhan yang sangat baik, meliputi aspek usability sebesar 3.92 (kategori Setuju),
aspek completeness sebesar 4.50, aspek consistency sebesar 4.41, aspek clarity sebesar 4.33, dan aspek traceability sebesar 4,25 yang seluruhnya berada pada kategori
Sangat Setuju. Implementasi kerangka kerja ini berhasil menyediakan prosedur formal yang konsisten dan terintegrasi, dan mendukung langkah strategis Perusahaan
XYZ untuk berpotensi meningkatkan maturity level EA menuju level 3 (Defined)
pada ACMM.
Perpustakaan Digital ITB