Hidrogel berbasis biopolimer menawarkan peluang strategis dalam pengembangan
pangan fungsional karena sifatnya yang biokompatibel, kemampuannya menyerap
air, serta potensinya sebagai matriks penghantaran senyawa bioaktif. Di tengah
meningkatnya kebutuhan akan produk pangan yang tidak hanya bernilai gizi tetapi
juga memiliki efek fisiologis tambahan, glukomanan dari umbi Amorphophallus
muelleri Blume (porang) menawarkan prospek yang sangat menjanjikan.
Tantangan utamanya terletak pada variasi kualitas bahan baku, mekanisme
pembentukan jejaring hidrogel yang memerlukan kontrol presisi, serta kemampuan
matriks untuk mempertahankan stabilitas bioaktif alami.
Penelitian ini menyajikan suatu strategi terpadu yang mencakup optimasi ekstraksi
glukomanan, sintesis hidrogel melalui mekanisme Freeze–Thaw (FT), rekayasa
jejaring fisik–ionik–ganda, serta pemuatan ekstrak temulawak untuk menghasilkan
sistem penghantaran bioaktif yang stabil, fungsional, dan berpotensi diaplikasikan
pada produk pangan modern. Tiga metode ekstraksi diuji secara komprehensif, dan
metode multi-tahap etanol menghasilkan glukomanan berkadar tinggi dengan
kandungan abu serta kalsium oksalat terendah, viskositas larutan tertinggi, struktur
morfologi granula yang lebih seragam dan pola kristalinitas yang konsisten sesuai
hasil FTIR dan XRD. Glukomanan ini kemudian digunakan sebagai prekursor
utama untuk sintesis hidrogel melalui mekanisme FT. Optimasi proses dilakukan
menggunakan desain Box–Behnken yang dikombinasikan dengan model
pembelajaran mesin (Gradient Boosting, AdaBoost, dan kNN). Hasilnya
menunjukkan bahwa konsentrasi glukomanan, durasi pembekuan, dan jumlah
siklus FT merupakan parameter dominan yang menentukan ukuran pori, derajat
pengembangan, dan kekuatan mekanik hidrogel. Model statistik menunjukkan
kecocokan sangat baik (R² 0,95–0,99), sementara integrasi pembelajaran mesin
meningkatkan akurasi prediksi terutama untuk variabel respons yang sangat nonlinear, seperti diameter pori.
Variasi jejaring kemudian dianalisis melalui pembentukan tiga tipe matriks: jejaring
fisik, jejaring ionik berbasis sodium tripolyphosphate, dan jejaring ganda yang
mengombinasikan keduanya. Jejaring tunggal fisik/single network (SN-Fisik) menampilkan pori yang saling terhubung dengan kapasitas pengembangan tinggi
karena dominasi ikatan hidrogen. Jejaring tunggal ionik/single network (SN-Ionik)
memperlihatkan struktur yang lebih rapat akibat kolaps, derajat pengembangan
lebih rendah, dan tekstur yang lebih lembut. Sementara itu, jejaring ganda/double
network (DN) menunjukkan stabilitas paling baik, pori lebih teratur, ketahanan
mekanik lebih tinggi, dan respons pengembangan yang lebih terkendali. Hasil SEM,
FTIR, Raman, dan XRD menunjukkan reorganisasi molekuler dan perubahan
kristalinitas yang konsisten dengan mekanisme pembentukan masing-masing
jejaring. Fungsionalisasi hidrogel dilakukan melalui pemuatan ekstrak temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai sumber senyawa bioaktif yang memiliki
aktivitas antioksidan dan antibakteri. Interaksi non-kovalen antara gugus hidroksil
glukomanan dan senyawa bioaktif terdeteksi melalui pergeseran vibrasi pada
spektrum FTIR dan Raman. Pemuatan ekstrak terbukti memodifikasi sifat hidrogel,
terutama pada morfologi pori, kekuatan gel, dan kapasitas pengembangan.
Uji pelepasan menunjukkan profil pelepasan terkontrol, di mana kecepatan difusi
dipengaruhi oleh densitas jejaring fisik–ionik dan struktur pori internal. Aktivitas
antioksidan dan antibakteri meningkat signifikan setelah pemuatan ekstrak,
sementara uji biokompatibilitas in vitro menunjukkan respons yang tetap aman.
Analisis fakta nutrisi mengungkap bahwa hidrogel glukomanan–temulawak
memiliki kadar air tinggi, karbohidrat, protein dan lemak pada kadar sangat rendah,
natrium minimal, serta nilai energi 165,36 kkal per 100 g. Profil ini konsisten
dengan karakteristik bahan pangan rendah energi dan mendukung kelayakannya
sebagai agen pembawa bioaktif untuk produk pangan fungsional. Penelitian ini
menunjukkan bahwa integrasi antara optimasi ekstraksi, rekayasa jejaring hidrogel,
dan fungsionalisasi bioaktif mampu menghasilkan platform hidrogel glukomanan–
temulawak yang stabil, aman, memiliki aktivitas biologis yang meningkat, dan
berpotensi kuat untuk diaplikasikan dalam pengembangan pangan fungsional
berbasis biomaterial lokal Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB