digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Alopesia androgenetik (AGA) merupakan gangguan kebotakan progresif akibat aktivitas berlebih hormon androgen yang memicu miniaturisasi folikel rambut serta memperpendek fase anagen. Terapi farmakologis utama saat ini masih terbatas pada penggunaan minoxidil topikal dan finasteride oral yang efikasinya dibatasi oleh berbagai efek samping seperti iritasi kulit kepala, risiko disfungsi seksual, serta efek teratogenik. Kondisi tersebut mendorong perlunya eksplorasi terapi alternatif yang lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan follicle-targeted nanocarrier berbasis sediaan nanoemulsi tipe minyak dalam air (M/A) kombinasi minyak biji kelor (Moringa oleifera L.) dan ekstrak etanol buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai kandidat terapi topikal yang stabil dan efektif untuk menghantarkan senyawa aktif secara optimal melalui rute transfolikular. Standarisasi bahan baku menunjukkan bahwa simplisia buah mengkudu memenuhi standar mutu Farmakope Herbal Indonesia 2017, sementara ekstrak etanol buah mengkudu memiliki kadar air sebesar 12,30 ± 0,35% serta teridentifikasi mengandung metabolit sekunder berupa alkaloid, fenol, triterpenoid, dan saponin. Pada tahap pra-formulasi, konstruksi diagram fase pseudoterner menunjukkan bahwa penggunaan sistem surfaktan kombinasi Cremophor RH-40 dan Span 80 (Smix 4:1) dengan kosurfaktan PEG 400 (Km 3:1) menghasilkan kapasitas solubilisasi fase minyak yang lebih baik dengan luas area isotropik mencapai 13,82% dibandingkan dengan sistem surfaktan tunggal yang hanya sebesar 1,04%. Optimasi parameter proses dilakukan dengan bantuan Response Surface Methodology (RSM) melalui pemodelan kuadratik. Parameter proses terpilih adalah metode pra-ekuilibrasi mekanis selama 105 menit dengan surfaktan kombinasi (Opsi B) yang menghasilkan sediaan monodispersi dengan ukuran partikel 54,7 ± 30,7 nm, indeks polidispersitas (PDI) 0,290 ± 0,077, pH 4,63 ± 0,00, dan viskositas sebesar 3,35 ± 0,41 mPa.s. Pengamatan melalui instrumen Transmission Electron Microscopy (TEM) mengonfirmasi morfologi nanodroplet berbentuk sferis. Sediaan teroptimasi ini mampu mempertahankan ukuran partikel skala nanometer pada penyimpanan suhu ruang hingga hari ke-21, memiliki stabilitas pH yang konstan hingga hari ke-28, serta stabil terhadap uji sentrifugasi. Pengujian aktivitas antialopesia dilakukan secara in vivo selama 21 hari pada hewan uji mencit jantan strain C57BL/6 model AGA yang diinduksi dengan testosteron eksogen. Hasil evaluasi makroskopis menunjukkan bahwa sediaan nanoemulsi menghasilkan parameter panjang, bobot, serta densitas pertumbuhan rambut yang lebih baik dibandingkan sediaan konvensionalnya. Pengamatan histomorfologi kulit dengan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin (H&E) mengonfirmasi bahwa sediaan nanoemulsi dapat membalikkan efek supresi androgen dengan mereaktivasi folikel rambut dari fase telogen menuju fase anagen aktif. Inkorporasi squalane 1% pada formula teroptimasi memberikan pertumbuhan paling progresif dengan mendorong reaktivasi folikel hingga mencapai fase anagen VI. Performa nanoemulsi kombinasi ini terbukti sebanding dengan kontrol positif sediaan kombinasi topikal finasteride dan minoxidil, namun memiliki keunggulan karena tidak menimbulkan efek deskuamasi maupun iritasi akut pada permukaan kulit hewan uji. Kebaruan penelitian ini terletak pada keberhasilan pengembangan follicle-targeted nanocarrier melalui integrasi antara minyak biji kelor yang bersifat lipofilik dan ekstrak hidrofilik buah mengkudu dalam satu sistem nanoemulsi energi rendah. Formulasi ini dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan penetrasi bahan alam melalui stratum korneum serta mengoptimalkan rute penghantaran transfolikular. Platform sediaan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut serta diaplikasikan sebagai produk kosmesetikal topikal terapi AGA masa depan yang aman, nyaman, dan efektif.