Alopesia androgenetik (AGA) merupakan gangguan kebotakan progresif akibat
aktivitas berlebih hormon androgen yang memicu miniaturisasi folikel rambut serta
memperpendek fase anagen. Terapi farmakologis utama saat ini masih terbatas
pada penggunaan minoxidil topikal dan finasteride oral yang efikasinya dibatasi
oleh berbagai efek samping seperti iritasi kulit kepala, risiko disfungsi seksual,
serta efek teratogenik. Kondisi tersebut mendorong perlunya eksplorasi terapi
alternatif yang lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan follicle-targeted nanocarrier berbasis sediaan nanoemulsi tipe
minyak dalam air (M/A) kombinasi minyak biji kelor (Moringa oleifera L.) dan
ekstrak etanol buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai kandidat terapi
topikal yang stabil dan efektif untuk menghantarkan senyawa aktif secara optimal
melalui rute transfolikular.
Standarisasi bahan baku menunjukkan bahwa simplisia buah mengkudu memenuhi
standar mutu Farmakope Herbal Indonesia 2017, sementara ekstrak etanol buah
mengkudu memiliki kadar air sebesar 12,30 ± 0,35% serta teridentifikasi
mengandung metabolit sekunder berupa alkaloid, fenol, triterpenoid, dan saponin.
Pada tahap pra-formulasi, konstruksi diagram fase pseudoterner menunjukkan
bahwa penggunaan sistem surfaktan kombinasi Cremophor RH-40 dan Span 80
(Smix 4:1) dengan kosurfaktan PEG 400 (Km 3:1) menghasilkan kapasitas
solubilisasi fase minyak yang lebih baik dengan luas area isotropik mencapai
13,82% dibandingkan dengan sistem surfaktan tunggal yang hanya sebesar 1,04%.
Optimasi parameter proses dilakukan dengan bantuan Response Surface
Methodology (RSM) melalui pemodelan kuadratik. Parameter proses terpilih
adalah metode pra-ekuilibrasi mekanis selama 105 menit dengan surfaktan
kombinasi (Opsi B) yang menghasilkan sediaan monodispersi dengan ukuran
partikel 54,7 ± 30,7 nm, indeks polidispersitas (PDI) 0,290 ± 0,077, pH 4,63 ± 0,00,
dan viskositas sebesar 3,35 ± 0,41 mPa.s. Pengamatan melalui instrumen
Transmission Electron Microscopy (TEM) mengonfirmasi morfologi nanodroplet
berbentuk sferis. Sediaan teroptimasi ini mampu mempertahankan ukuran partikel
skala nanometer pada penyimpanan suhu ruang hingga hari ke-21, memiliki
stabilitas pH yang konstan hingga hari ke-28, serta stabil terhadap uji sentrifugasi.
Pengujian aktivitas antialopesia dilakukan secara in vivo selama 21 hari pada
hewan uji mencit jantan strain C57BL/6 model AGA yang diinduksi dengan
testosteron eksogen. Hasil evaluasi makroskopis menunjukkan bahwa sediaan
nanoemulsi menghasilkan parameter panjang, bobot, serta densitas pertumbuhan
rambut yang lebih baik dibandingkan sediaan konvensionalnya. Pengamatan
histomorfologi kulit dengan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin (H&E)
mengonfirmasi bahwa sediaan nanoemulsi dapat membalikkan efek supresi
androgen dengan mereaktivasi folikel rambut dari fase telogen menuju fase anagen
aktif. Inkorporasi squalane 1% pada formula teroptimasi memberikan
pertumbuhan paling progresif dengan mendorong reaktivasi folikel hingga
mencapai fase anagen VI. Performa nanoemulsi kombinasi ini terbukti sebanding
dengan kontrol positif sediaan kombinasi topikal finasteride dan minoxidil, namun
memiliki keunggulan karena tidak menimbulkan efek deskuamasi maupun iritasi
akut pada permukaan kulit hewan uji.
Kebaruan penelitian ini terletak pada keberhasilan pengembangan follicle-targeted
nanocarrier melalui integrasi antara minyak biji kelor yang bersifat lipofilik dan
ekstrak hidrofilik buah mengkudu dalam satu sistem nanoemulsi energi rendah.
Formulasi ini dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan penetrasi bahan alam
melalui stratum korneum serta mengoptimalkan rute penghantaran transfolikular.
Platform sediaan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut serta
diaplikasikan sebagai produk kosmesetikal topikal terapi AGA masa depan yang
aman, nyaman, dan efektif.
Perpustakaan Digital ITB