BAB 1 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 6 Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Yose Rinaldo
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Sampel batubara SBU-01 yang berasal dari Kecamatan Mandiangin, Kabupaten
Sarolangun, Provinsi Jambi (Formasi Muara Enim, Cekungan Sumatera Selatan)
dianalisis menggunakan Thermogravimetric Analysis (TGA) untuk mengkaji
pengaruh variasi laju pemanasan (10, 15, dan 20°C/menit) terhadap karakteristik
kurva TG dan DTG pada rentang suhu di atas 170°C, menggunakan instrumen
NETZSCH STA 449 F5 Jupiter pada atmosfer inert N2. Berdasarkan hasil analisis
proksimat dan nilai kalori, sampel diklasifikasikan sebagai lignit A menurut ASTM
D388, dengan komposisi maseral yang didominasi oleh grup vitrinit/huminit. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kurva DTG pada ketiga laju pemanasan secara
konsisten menampilkan dua puncak dekomposisi, yaitu puncak pertama pada tahap
pirolisis cepat dengan temperatur puncak (Tmax) berkisar 398,5–409,1°C, dan
puncak kedua pada tahap polikondensasi cepat dengan temperatur puncak (Tp)
berkisar 664,4–719,6°C. Posisi kedua puncak bergeser konsisten ke arah suhu yang
lebih tinggi seiring meningkatnya laju pemanasan, sejalan dengan efek
keterlambatan termal (thermal lag), sedangkan kedalaman puncak dekomposisi
utama meningkat signifikan, dengan laju kehilangan massa maksimum (dw/dt)max
meningkat dari 1,80%/menit pada laju pemanasan 10°C/menit menjadi
3,67%/menit pada laju pemanasan 20°C/menit. Pola ini konsisten dengan
karakteristik dasar sampel yang memiliki kadar zat terbang tinggi dan komposisi
maseral yang reaktif secara termal.
Perpustakaan Digital ITB