Pertumbuhan produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) secara global telah meningkatkan permintaan pakan akuakultur. Di sisi lain, industri budidaya udang masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, dan penerapan sistem budidaya intensif yang mengandalkan system flow through dengan padat tebar tinggi meningkatkan risiko penyakit akibat infeksi berbagai pathogen. Kondisi tersebut mendorong pengembangan sumber pakan alternatif yang tidak hanya memiliki nilai nutrisi tinggi, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan dan ketahanan udang.
Salah satu bahan yang berpotensi dikembangkan adalah ragi oleaginous, yaitu Rhodotorula toruloides. Rhodotorula toruloides telah banyak diteliti karena kemampuannya dalam biosintesis PUFA (Polyunsaturated Fatty Acid) yang merupakan asam lemak tak jenuh ganda sebagai nutrisi esensial yang bermanfaat bagi kesehatan. PUFA yang dihasilkan dari mikroba juga merupakan bahan baku alternatif pengganti minyak nabati, lemak hewan, maupun minyak bumi (fosil). Hasil samping produksi ragi tersebut masih mengandung protein, asam amino, vitamin, ?-glukan, mannan-oligosakarida (MOS), serta karotenoid, sehingga dapat dimanfaatkan untuk bahan baku substitusi pakan akuakultur. Meskipun demikian, pemanfaatannya masih terbatas karena struktur dinding sel yang kompleks dan sulit dicerna. Oleh karena itu, diperlukan proses hidrolisis enzimatik untuk mendisrupsi dinding sel sehingga senyawa intraseluler, seperti peptida, asam amino bebas, dan komponen bioaktif, dapat dilepaskan dan memiliki ketersediaan hayati yang lebih tinggi bagi udang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi biomassa sisa ragi dan hidrolisat ragi R. toruloides sebagai bahan substitusi pakan terhadap performa pertumbuhan serta ketahanan udang vaname post-larva 10 terhadap infeksi Vibrio parahaemolitycus. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap 1 optimasi dan produksi hidrolisat ragi menggunakan enzim alcalase, tahap 2 pengujian substitusi pakan, tahap 3 uji tantang terhadap Vibrio parahaemolyticus. Optimasi hidrolisis dilakukan menggunakan tiga perlakuan berdasarkan penelitian Xie et al., 2017, Takallo et al 2020, dan A. Della Rosa, Fernanda et al, 2024 dengan 3 ulangan.
Parameter efektivitas hidrolisis yang diamati meliputi solid recovery, protein recovery, cell lysis, dan kadar gula pereduksi. Optimasi terbaik selanjutnya digunakan untuk memproduksi hidrolisat ragi menggunakan freeze dryer dan digunakan sebagai bahan substitusi pakan. Pengujian biologis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan, yaitu kontrol (K0), hidrolisat ragi 1%, 2%, dan 3% (T1–T3), serta ragi 1%, 2%, dan 3% (P1–P3). Udang dipelihara dengan sistem batch selama 30 hari dan diamati parameter pertumbuhan yang meliputi mean body weight (MBW), mean body length (MBL), feed conversion ratio (FCR), serta survival rate (SR). Setelah masa pemeliharaan, dilakukan uji tantang menggunakan V. parahaemolyticus dengan metode perendaman pada konsentrasi sekitar 10? CFU/mL selama tujuh hari untuk mengevaluasi ketahanan terhadap infeksi.
Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan bahwa perlakuan H3 (konsentrasi sampel 15% b/b, dosis alcalase 1% b/b, pH 8, 60 °C, 60 menit) menghasilkan efektivitas hidrolisis tertinggi dengan nilai solid recovery sebesar 47,60%, protein recovery 72,20%, cell lysis 61,37%, serta gula pereduksi sebesar 44,52 mg/g. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa perlakuan tersbeut mampu menghasilkan hidrolisat dengan hasil yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Pada penelitian tahap 2, substitusi hidrolisat ragi 1% menghasilkan performa pertumbuhan yang signifikan pada parameter mean body weight (0,082 g) dan survival rate selama masa pemeliharaan (84%). Sementara substitusi hidrolisat ragi sebesar 1% pada mean body length (2,53 cm), serta feed conversion ratio (FCR) (1,867) tidak memberikan pengaruh nyata. Selain itu, tahap 3 setelah uji tantang menggunakan V. parahaemolyticus memberikan hasil bahwa perlakuan hidrolisat ragi 3% menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi (76,19%) dibandingkan perlakuan lainnya, yang mengindikasikan adanya peningkatan ketahanan terhadap infeksi bakteri.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa biomassa sisa ragi dan hidrolisat ragi Rhodotorula toruloides memiliki potensi sebagai bahan substitusi pakan fungsional untuk budidaya udang vaname. Hidrolisat ragi 1% mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien sehingga mendukung pertumbuhan udang, sedangkan substitusi ragi dosis 3% berpotensi meningkatkan resistensi terhadap infeksi Vibrio parahaemolyticus. Temuan ini memberikan alternatif pemanfaatan biomassa sisa produksi single-cell oil sebagai bahan baku pakan akuakultur yang bernilai tambah.
Perpustakaan Digital ITB