COVER Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Adri Firmansyah Solihin
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Hasil PISA 2022 menempatkan posisi Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara dengan skor 1.108 yang menunjukkan kelemahan siswa Indonesia terkait kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Hasil ini menjadi tantangan utama bagi siswa untuk bersaing di era global dan mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh (1) scaffolding, yaitu metoda pembelajaran dengan memberikan dukungan terstruktur dan sementara untuk membantu siswa memahami teks kompleks sehingga mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, dan (2) Nudging yaitu perubahan kecil pada instruksi yang mendorong siswa dalam pengambilan keputusan yang lebih baik saat menyelesaikan tugas. Penelitian ini diujikan untuk melihat performa kognitif pelajar usia 19 – 21 tahun dalam menyelesaikan tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Desain penelitian ini menggunakan tiga kelompok perlakuan, yaitu G1 (baseline/no nudging), G2 (soft nudge), dan G3 (strong nudge); masing-masing terdiri dari 64 partisipan (N = 192) untuk menyelesaikan 10 Soal (S) pada tugas visuo-spatial puzzle “falling leaves”. Soal (S) terbagi menjadi tiga kriteria yakni soal S1 – S5 untuk menjawab urutan daun yang jatuh ke-n, soal S6 – S8 mengurutkan daun jatuh pertama hingga terakhir, dan soal S9 – S10 untuk menjawab urutan daun yang jatuh lebih dari satu. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk melihat normalitas data, dan jika data tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan (1) uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan signifikansi dari tiga kelompok berbeda, (2) uji Two proportion Z-test untuk melihat perbedaan signifikansi dari dua kelompok near transfer, serta (3) uji Epsilon-Squared dan Rank-Biserial untuk melihat besarnya pengaruh antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nudging secara signifikan meningkatkan performa kognitif. Kelompok G3 mencapai rata-rata skor tertinggi (6.91 ± 3.18), diikuti G2 (6.42 ± 3.38) dan G1 (4.5 ± 3.33). Pada soal S9 dan S10, skor nudging pada G2 dan G3 berhasil meningkatkan tingkat keberhasilan secara signifikan. Selain itu, soft dan strong nudge berhasil memfasilitasi near transfer dari S9 ke S10 dengan skor Z-test G2 (4.266457) dan G3 (9.7168). Terlihat bahwa perbedaan usia dan jenis kelamin tidak berbeda nyata terkait dengan performa kognitif. Penelitian ini memperlihatkan bahwa performa pada tugas complex problem solving sangat sensitif terhadap desain tugas dan nudging, bukan karena perbedaan usia dan jenis kelamin. Dapat disimpulkan bahwa strong nudge terbukti paling efektif dalam mengurangi beban kognitif dan meningkatkan kemampuan near transfer. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan empiris dalam menyusun kebijakan pendidikan yang mendukung peningkatan kemampuan problem solving pelajar di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB