digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri penerbangan membutuhkan alternatif bahan bakar rendah emisi, salah satunya melalui pengembangan bioavtur berbasis biomassa. Minyak larva Black Soldier Fly (BSF-L) berpotensi digunakan sebagai feedstock karena mengandung lipid dan asam lemak yang dapat dikonversi menjadi hidrokarbon melalui proses hidrodeoksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan fraksi alkana yang dihasilkan dari crude BSF-L oil dan FAME sebagai feedstock, mengevaluasi pengaruh rasio hidrogen terhadap feedstock, temperatur, dan tekanan terhadap konversi reaksi, serta menentukan kondisi operasi terbaik menggunakan katalis komersial HDS PK-230 TD tersulfidasi. Penelitian dilakukan melalui pre-treatment minyak BSF-L, persiapan FAME, sulfidasi katalis, reaksi hidrodeoksigenasi dalam reaktor batch, serta analisis produk menggunakan GC-MS dan GC-FID. Hasil penelitian menunjukkan bahwa crude BSF-L oil menghasilkan fraksi alkana lebih tinggi dibandingkan FAME, dengan fraksi alkana sebesar 6,65% pada RC-50-1 dan 0,32% pada RF-50-1. Peningkatan rasio hidrogen terhadap feedstock juga meningkatkan fraksi alkana dari 6,65% pada RC-50-1 menjadi 17,87% pada RC-25-1. Pada variasi kondisi operasi, peningkatan temperatur dari 300°C menjadi 330°C pada tekanan 40 bar meningkatkan konversi akhir dari 88,98% menjadi 96,74%, sedangkan peningkatan tekanan dari 40 bar menjadi 60 bar pada temperatur 300°C hanya meningkatkan konversi menjadi 90,24%. Kondisi operasi terbaik diperoleh pada 330°C, 40 bar, dan waktu reaksi 4 jam dengan konversi akhir sebesar 96,74% dan total FAME tersisa sebesar 3,26%. Dengan demikian, crude BSF-L oil lebih potensial digunakan sebagai feedstock hidrodeoksigenasi dibandingkan FAME, dan temperatur menjadi variabel operasi yang lebih dominan dibandingkan tekanan dalam meningkatkan konversi pada sistem reaktor batch.