ABSTRAK Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Arsya Alaysia
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Normalisasi pola kerja fleksibel remote work, hybrid work, dan freelance pascapandemi COVID-19 berpotensi mengubah karakteristik perjalanan harian secara
signifikan, khususnya di kalangan Generasi Z yang kini mendominasi angkatan
kerja perkotaan. Namun implikasinya terhadap sistem transportasi perkotaan di
Indonesia masih belum banyak diteliti secara empiris. Penelitian ini mengkaji
pengaruh pola kerja fleksibel Generasi Z terhadap perilaku perjalanan dan
pemilihan moda transportasi di Kecamatan Coblong, Bandung Wetan, dan Sumur
Bandung tiga kecamatan pusat Kota Bandung dengan konsentrasi ekosistem kerja
fleksibel tertinggi.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan sequential explanatory
design, menggabungkan survei kuesioner terhadap 97 responden Gen Z pekerja
fleksibel yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, ChiSquare, dan regresi logistik multinomial, dengan wawancara mendalam kepada 10
informan yang diolah melalui analisis tematik dan triangulasi.vi
Temuan menunjukkan bahwa kerja fleksibel tidak mengurangi total mobilitas Gen
Z melainkan mentransformasikan karakternya 89,1% responden tetap bepergian
pada hari tidak ada kewajiban ke kantor, dengan pola perjalanan multi-tujuan yang
didominasi kuliner (74,2%), co-working space (67,0%), dan belanja (63,9%).
Meskipun rebound effect tidak terkonfirmasi secara statistik (rho = -0,005, p =
0,958), pergeseran karakter perjalanan dari komuter terjadwal menuju mobilitas
yang lebih cair tergambar jelas secara deskriptif. Sepeda motor pribadi
mendominasi pilihan moda kerja (68,0%) maupun non-kerja (63,9%), dengan
kepemilikan kendaraan sebagai prediktor terkuat (?² = 28,3, p < 0,001) jauh
melampaui pengaruh jenis pekerjaan yang terbukti tidak signifikan (p = 0,720).
Faktor biaya dan fleksibilitas waktu menempati posisi teratas kepentingan
pemilihan moda, merevisi dugaan awal bahwa teknologi dan kenyamanan lebih
dominan bagi Gen Z.
Gap analysis mengidentifikasi empat kesenjangan struktural: temporal, spasial,
moda, dan kebijakan yang mencerminkan ketidaksesuaian antara sistem
transportasi berbasis asumsi 9-to-5 dengan kebutuhan mobilitas Gen Z yang lebih
cair dan beragam. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tipologi kerja
fleksibel sebagai determinan perilaku perjalanan dalam konteks kota berkembang
Indonesia, memberikan dasar empiris bagi pembaruan kebijakan transportasi Kota
Bandung yang responsif terhadap perubahan sosial angkatan kerja muda.
Perpustakaan Digital ITB