Urbanisasi yang pesat di kawasan Metropolitan Bandung Raya memicu dinamika
mobilitas penduduk yang semakin kompleks serta memperbesar tekanan terhadap
infrastruktur transportasi harian. Perkembangan ini menciptakan
ketidakseimbangan spasial antara penyebaran lokasi permukiman dengan pusat
lokasi kegiatan ekonomi dan fasilitas publik, yang mendorong peningkatan
intensitas arus komuter intra-metropolitan. Ketimpangan fungsi wilayah antara
kawasan urban, kawasan peri-urban, serta kawasan rural membentuk pola interaksi
spasial harian yang tidak simetris. Permasalahan utama dalam penelitian ini berakar
pada variasi karakteristik pola ruang dan tata guna lahan yang memengaruhi
intensitas serta arah pergerakan komuter secara berbeda antar-lokasi. Model
interaksi spasial konvensional yang bersifat global umumnya mengasumsikan
bahwa hubungan antarvariabel bersifat homogen di seluruh wilayah studi. Asumsi
tersebut dinilai mengabaikan fenomena spatial nonstationarity atau heterogenitas
spasial, di mana pengaruh faktor origin, destination, dan hambatan jarak bervariasi
secara signifikan pada tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan
arus komuter di Bandung Raya guna mengidentifikasi pola persebaran dan pusat
konsentrasinya, serta menganalisis faktor penentu dan peran pola ruang dalam
membentuk pola pergerakan komuter tersebut. Pendekatan penelitian yang
digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan unit analisis pada tingkat
administrasi 85 kecamatan di kawasan Cekungan Bandung. Pengolahan data
melibatkan teknik konversi fasilitas, serta kalibrasi data ketenagakerjaan.
Pemodelan interaksi spasial dilakukan secara bertahap melalui tiga pendekatan.
Pertama, Global Spatial Interaction Model (GSIM) untuk memodelkan arus
komuter berbasis data origin-destination. Kedua, analisis Autokorelasi Spasial
diterapkan untuk mendeteksi keterikatan dan pengelompokan spasial. Ketiga,
Spatially Weighted Interaction Model (SWIM) dikembangkan guna
mengakomodasi heterogenitas spasial dan mengestimasi parameter regresi secara
lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi arus komuter intra-kota di
Bandung Raya memperlihatkan pola sektoral yang heterogen. Sektor jasa dan
pendidikan memiliki kecenderungan pemusatan yang sangat kuat mengarah ke
kawasan inti Kota Bandung. Sebaliknya, sektor industri membentuk pola koridor
multi-nodal di kawasan peri-urban, sedangkan sektor pertanian bersifat
terdesentralisasi di wilayah rural. Analisis efek peluruhan jarak membuktikanii
bahwa jarak jaringan jalan berpengaruh negatif dan dominan sebagai hambatan
spasial utama mobilitas komuter. Pengujian Autokorelasi Spasial Global
membuktikan adanya autokorelasi spasial positif yang signifikan. Secara
komparatif, model SWIM terbukti mampu menangkap variasi parameter lokal dan
memberikan estimasi yang lebih presisi dibandingkan model global GSIM.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan model SWIM untuk
menganalisis dan memetakan variasi koefisien lokal dalam hubungan antara
karakteristik spasial dan arus komuter intra-metropolitan berbasis data OriginDestination di Indonesia. Penelitian ini memberikan sumbangan teoritis terhadap
bukti kuantitatif mengenai pentingnya mempertimbangkan heterogenitas lokal
dalam pemodelan interaksi spasial. Secara praktis, temuan ini menyajikan masukan
strategis bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan transportasi terpadu,
pengelolaan mobilitas harian, serta penataan ruang yang responsif terhadap struktur
perkotaan polisentris di Bandung Raya.
Perpustakaan Digital ITB