digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Urbanisasi yang pesat di kawasan Metropolitan Bandung Raya memicu dinamika mobilitas penduduk yang semakin kompleks serta memperbesar tekanan terhadap infrastruktur transportasi harian. Perkembangan ini menciptakan ketidakseimbangan spasial antara penyebaran lokasi permukiman dengan pusat lokasi kegiatan ekonomi dan fasilitas publik, yang mendorong peningkatan intensitas arus komuter intra-metropolitan. Ketimpangan fungsi wilayah antara kawasan urban, kawasan peri-urban, serta kawasan rural membentuk pola interaksi spasial harian yang tidak simetris. Permasalahan utama dalam penelitian ini berakar pada variasi karakteristik pola ruang dan tata guna lahan yang memengaruhi intensitas serta arah pergerakan komuter secara berbeda antar-lokasi. Model interaksi spasial konvensional yang bersifat global umumnya mengasumsikan bahwa hubungan antarvariabel bersifat homogen di seluruh wilayah studi. Asumsi tersebut dinilai mengabaikan fenomena spatial nonstationarity atau heterogenitas spasial, di mana pengaruh faktor origin, destination, dan hambatan jarak bervariasi secara signifikan pada tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan arus komuter di Bandung Raya guna mengidentifikasi pola persebaran dan pusat konsentrasinya, serta menganalisis faktor penentu dan peran pola ruang dalam membentuk pola pergerakan komuter tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan unit analisis pada tingkat administrasi 85 kecamatan di kawasan Cekungan Bandung. Pengolahan data melibatkan teknik konversi fasilitas, serta kalibrasi data ketenagakerjaan. Pemodelan interaksi spasial dilakukan secara bertahap melalui tiga pendekatan. Pertama, Global Spatial Interaction Model (GSIM) untuk memodelkan arus komuter berbasis data origin-destination. Kedua, analisis Autokorelasi Spasial diterapkan untuk mendeteksi keterikatan dan pengelompokan spasial. Ketiga, Spatially Weighted Interaction Model (SWIM) dikembangkan guna mengakomodasi heterogenitas spasial dan mengestimasi parameter regresi secara lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi arus komuter intra-kota di Bandung Raya memperlihatkan pola sektoral yang heterogen. Sektor jasa dan pendidikan memiliki kecenderungan pemusatan yang sangat kuat mengarah ke kawasan inti Kota Bandung. Sebaliknya, sektor industri membentuk pola koridor multi-nodal di kawasan peri-urban, sedangkan sektor pertanian bersifat terdesentralisasi di wilayah rural. Analisis efek peluruhan jarak membuktikanii bahwa jarak jaringan jalan berpengaruh negatif dan dominan sebagai hambatan spasial utama mobilitas komuter. Pengujian Autokorelasi Spasial Global membuktikan adanya autokorelasi spasial positif yang signifikan. Secara komparatif, model SWIM terbukti mampu menangkap variasi parameter lokal dan memberikan estimasi yang lebih presisi dibandingkan model global GSIM. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan model SWIM untuk menganalisis dan memetakan variasi koefisien lokal dalam hubungan antara karakteristik spasial dan arus komuter intra-metropolitan berbasis data OriginDestination di Indonesia. Penelitian ini memberikan sumbangan teoritis terhadap bukti kuantitatif mengenai pentingnya mempertimbangkan heterogenitas lokal dalam pemodelan interaksi spasial. Secara praktis, temuan ini menyajikan masukan strategis bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan transportasi terpadu, pengelolaan mobilitas harian, serta penataan ruang yang responsif terhadap struktur perkotaan polisentris di Bandung Raya.