Perkembangan industri ritel kecantikan yang pesat menjadikan pemahaman
mekanisme pemicu pembelian konsumen menjadi faktor yang signifikan.
Pencahayaan ritel, melalui parameter CCT (Correlated Color Temperature),
berfungsi sebagai stimulus eksternal yang memengaruhi visualisasi produk,
sehingga memicu respons emosional pengunjung. Penelitian ini bertujuan
menganalisis pengaruh parameter pencahayaan terhadap kondisi emosional
pengunjung melalui respons psikofisiologis.
Metode penelitian ini menggunakan mixed method dengan eksperimen untuk
mendapat pengukuran respons psikofisiologis. Eksperimen ini dilakukan di
Laboratorium Tata Cahaya Institut Teknologi Bandung dengan menyerupai toko
ritel kecantikan (mock-up beauty retail store) untuk melakukan tes swatching atau
mencoba produk kecantikan, yaitu lip product dan complexion. Dengan
menggunakan dua kondisi pencahayaan yang berbeda, yaitu cahaya dingin (cool
light, 6500K) dan cahaya hangat (warm light, 3000K) pada 17 responden berbeda,
dilakukan pengukuran respons objektif dan subjektif. Pengukuran respons
psikofisiologis diukur menggunakan ECG (Electrocardiogram) dengan HRV
(Heart Rate Variability) sebagai indikator objektif, terutama pada variabel RMSSD
(Root Mean Square of Successive RR Interval Differences) dan SDSD (Standard
Deviation of Successive Differences). Selain itu, respons subjektif juga didapatkan
dengan mengisi tiga kuesioner, yaitu VAS (Visual Analog Scale), SAM (SelfAssessment
Manikin) dan kuesioner utama tentang pengaruh pencahayaan pada
pengalaman responden saat melakukan eksperimen. Hasil dari kedua respons
tersebut digunakan untuk melihat perubahan kondisi emosional pengunjung yang
dapat mendasari keputusan pembelian dan kepuasan pengunjung.
Hasil temuan pada data HRV, terutama RMSSD dan SDSD, mengungkapkan
bahwa Cool Light lebih efektif dalam menstimulasi kewaspadaaan (alertness),
namun tubuh tetap mampu mengontrol diri agar tidak stres berlebih. Sedangkan
Warm Light memiliki lonjakan lebih tinggi pada RMSSD dan SDSD yang
menunjukkan cahaya ini mencegah kelelahan mental (mental fatigue) dan
mempertahankan kenyamanan pengunjung, namun kurang efektif untuk keakuratan
visual produk dalam segi warna dan tekstur. Selain itu, hasil analisis menyatakan
bahwa tidak ada korelasi signifikan atas ketidaknyamanan visual (VAS) maupun
respons emosi (Valence/Arousal) terhadap indikator HRV (RMSSD dan SDSD).
Hal ini menunjukkan bahwa respons fisiologis dan penilaian subjektif berjalan
melalui mekanisme yang terpisah. Keluhan subjektif seperti ketidaknyamanan
visual dan kelelahan mata tidak secara otomatis mencerminkan stres fisiologis pada
tubuh partisipan.
Hasil analisa membuktikan hipotesis penelitian, dengan menunjukkan bahwa
pencahayaan ritel berpengaruh signifikan terhadap respons psikofisiologis (H1) dan
emosi pengunjung (H3). Paparan cahaya dingin yang terbukti menstimulasi
alertness, sedangkan cahaya hangat yang meningkatkan relaksasi dan berperan
mencagah kelelahan mental. Namun, hipotesis mengenai pengaruh respons
psikofisiologis terhadap emosi pengunjung (H2) tidak terdukung, di mana tidak
ditemukan korelasi signifikan antara indikator HRV dengan tingkat
ketidaknyamanan visual maupun dimensi emosi. Temuan ini mengidentifikasikan
adanya pemisahan mekanisme antara respons fisiologis dan penilaian subjektif, di
mana ketidaknyamanan visual tidak secara otomatis mencerminkan tingkat stress
fisiologis tubuh.
Dengan hasil analisa tersebut, didapati bahwa cahaya dingin lebih efektif untuk
aktivitas utama pada toko ritel kecantikan, yaitu swatching. Penggunaan cahaya
dingin pada area tester dan display sangat membantu pengunjung untuk memilih
warna dan tekstur produk kecantikan yang diinginkan. Namun, paparan cahaya
dingin yang lama akan membuat pengunjung mengalami kelelahan mata dan
peningkatan beban kerja mental, sehingga disarankan untuk memiliki area ruang
tunggu (lounge) dan area pembayaran dengan cahaya hangat, untuk meredam stres
mental yang disebabkan oleh paparan cahaya dingin.
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan berbasis data objektif dan
subjektif bagi para desain interior dan pemilik toko ritel kecantikan mengenai
strategi manipulasi pencahayaan interior yang optimal untuk kondisi emosional dan
meningkatkan kepuasan pengunjung, serta berkontribusi pada pemahaman
psikologi lingkungan dan pemasaran ritel.
Perpustakaan Digital ITB