Cascara, produk samping dari pengolahan biji kopi, memiliki potensi besar untuk divalorisasi menjadi sumber senyawa bioaktif fungsional. Varian kopi Robusta (Coffea canephora) diketahui memiliki dinding sel yang lebih kaku, sehingga memerlukan optimasi ekstraksi yang tepat untuk melepaskan senyawa antioksidannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tiga jenis pelarut polar (air, etanol, dan metanol) terhadap Total Phenolic Content (TPC), Total Flavonoid Content (TFC), serta aktivitas antioksidan ekstrak cascara robusta. Ekstraksi dilakukan pada simplisia mentah cascara yang telah dikeringkan menggunakan inkubator shaker pada suhu operasi 40 °C dengan kecepatan agitasi 120 rpm selama 90 menit. Ekstrak cair yang dihasilkan kemudian dianalisis kandungan fenolik totalnya menggunakan metode Folin-Ciocalteu, kandungan flavonoid total dengan metode kolorimetri aluminium klorida (AlCl3), dan kapasitas penangkal radikal bebas menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Scavenging Assay (IC50). Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang terbalik antara kuantitas senyawa terekstrak dengan potensi penangkal radikal bebasnya. Pelarut air secara kuantitatif menghasilkan kandungan fenolik total tertinggi sebesar 2,19 ± 0,13 mg GAE/g dan kandungan flavonoid total sebesar 0,28 ± 0,45 mg QE/g, akibat tingginya kepolaran air yang memaksimalkan difusi senyawa-senyawa polar dari dalam matriks dinding sel. Akan tetapi, aktivitas antioksidan terkuat justru ditunjukkan oleh pelarut metanol dengan nilai IC50 sebesar 103.66 ± 44.44 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa metanol jauh lebih selektif dalam menarik senyawa agen antioksidan. Di sisi lain, pelarut air turut melarutkan komponen penyerta yang tidak aktif (seperti gula dan protein alami), sehingga menurunkan efektivitas antioksidan murni pada ekstrak tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan membuka peluang luas bagi pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk olahan bernilai tinggi.
Perpustakaan Digital ITB