digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan jumlah investor ritel yang semakin meningkat diiringi dengan munculnya financial influencer (finfluencer). Sebagian melakukan riset sebelum mengambil keputusan, sebagian mengikuti tren, dan sebagian lainnya bergantung pada finfluencer. Masalah muncul ketika finfluencer—yang seharusnya membimbing investor— menonjolkan ciri-ciri subjektif guna mempengaruhi investor ritel, tanpa menampilkan kredibilitas mereka. Munculnya fenomena herding behavior, Fear of Missing Out (FOMO), dan risiko pump-and-dump menegaskan perlunya penilaian kredibilitas finfluencer sebelum mengikuti rekomendasi mereka. Literasi keuangan yang memadai merupakan penguat bagi investor dalam menilai kredibilitas finfluencer sebelum membentuk niat investasi. Namun, belum ada penelitian yang secara khusus memecah kredibilitas finfluencer ke dalam dimensi berdasar kredensial yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kredibilitas berbasis kredensial finfluencer yang dipersepsikan terhadap niat investasi investor ritel di Indonesia, dengan moderasi literasi keuangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dari 209 investor ritel Indonesia—melalui purposive sampling—dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas berdasarkan kredensial finfluencer memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap niat investasi investor ritel. Literasi keuangan sedikit memperkuat interaksi ini. Sertifikasi keuangan menunjukkan kontribusi tertinggi dari dimensi lainnya, diikuti oleh pengalaman praktisi dan latar belakang pendidikan. Temuan ini menyoroti pentingnya kredensial finfluencer dan perlunya inisiatif literasi keuangan yang lebih kuat dan standar kredibilitas yang lebih jelas bagi finfluencer di Indonesia. Kata kunci: Finfluencer, Kredibilitas Berbasis Kredensial yang Dipersepsikan, Niat Investasi, Literasi Keuangan, Investor Ritel