COVER Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Grace Edwina Tarigan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Peningkatan emisi karbon global mendorong pengembangan teknologi
penangkapan CO2 berkelanjutan melalui pemanfaatan Chlorella vulgaris yang
mampu memfiksasi CO2 sekaligus menghasilkan biomassa bernilai tinggi. Efisiensi
fiksasi karbon dipengaruhi oleh keseimbangan nutrien, terutama nitrogen dan
fosfor, serta dapat ditingkatkan melalui penambahan biochar sebagai fotokatalis.
Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum NaNO3 dan K2HPO4
untuk memaksimalkan konsentrasi biomassa, laju peningkatan biomassa, dan laju
fiksasi CO2 menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan desain
Box–Behnken (BBD). Kultivasi dilakukan pada medium BG-11 dengan
penambahan biochar 2 ppm pada suhu 25°C, fotoperiode 16:8 jam, intensitas
cahaya 10.000 lux, fotobioreaktor 1 L, laju aerasi 0,3 vvm, dan inokulum awal 106
sel/mL. Variasi NaNO3 yang digunakan adalah 1; 1,615; dan 2,23 g/L, sedangkan
K2HPO4 sebesar 0,02; 0,0515; dan 0,083 g/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
konsentrasi biomassa maksimum dan laju fiksasi CO2 tertinggi diperoleh pada
NaNO3 1,2–2 g/L dan K2HPO4 di atas 0,072 g/L, sedangkan laju peningkatan
biomassa tertinggi dicapai pada NaNO3 1,4–1,8 g/L dan K2HPO4 di atas 0,08 g/L.
Model matematis untuk laju fiksasi CO2 dinyatakan sebagai y = 0,06 + 0,543A ?
5,6B + 0,15AB ? 0,173A2 + 58,5B2, dengan y sebagai laju fiksasi CO2 (g/L·hari),
A konsentrasi NaNO3 (g/L), dan B konsentrasi K2HPO4 (g/L), namun model ini
tidak signifikan secara statistik (P > 0,05). Optimasi menghasilkan titik optimum
pada NaNO3 1,621 g/L dan K2HPO4 0,083 g/L dengan peningkatan konsentrasi
biomassa maksimum, laju peningkatan biomassa, dan laju fiksasi CO2 masing-
masing sebesar 36,11%; 32,5%; dan 35% dibandingkan medium BG-11 standar.
Perpustakaan Digital ITB