digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Kharisma Nur Annisa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Jerawat merupakan penyakit kulit dengan prevalensi tinggi pada remaja Indonesia yang berkaitan dengan infeksi Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Penggunaan antibiotik sebagai terapi konvensional dalam jangka panjang berisiko memicu resistensi antimikroba. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan kosmetik antijerawat berbahan aktif alami sebagai terapi pendamping dan pemeliharaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik. Salah satu bahan yang berpotensi dikembangkan adalah kombucha berbasis serai (Cymbopogon citratus) karena fermentasi dapat meningkatkan profil metabolit bioaktif serai yang diketahui memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri penyebab jerawat. Dalam fermentasi tersebut, konsentrasi sukrosa sebagai sumber karbon bagi Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) berperan penting dalam pembentukan metabolit fermentasi. Namun, pengaruh variasi konsentrasi sukrosa terhadap karakteristik fermentasi dan aktivitas antimikroba kombucha serai untuk aplikasi kosmetik masih belum banyak dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan (1) konsentrasi gula optimum untuk fermentasi kombucha serai (2) waktu fermentasi optimum untuk menghasilkan senyawa bioaktif terbaik (3) konsentrasi sukrosa dan waktu fermentasi optimum untuk menghasilkan aktivitas antimikroba. Fermentasi dilakukan menggunakan infusa serai 10 g/L dengan variasi gula (sukrosa) 30, 50, dan 70 g/L, starter 10% (v/v), dan SCOBY 3% (b/v) dalam 200 mL pada suhu 20–27°C selama 21 hari dengan pengambilan sampel setiap 3 hari. Parameter fermentasi dianalisis berdasarkan pH, kadar gula pereduksi (DNS), dan berat basah SCOBY. Dinamika mikroba diamati melalui kuantifikasi total bakteri aerob, bakteri asam asetat (BAA), bakteri asam laktat (BAL), dan ragi. Kandungan senyawa bioaktif dievaluasi berdasarkan total asam tertitrasi, total fenolik (metode Folin-Ciocalteu), dan total flavonoid (metode AlCl3). Aktivitas antimikroba diuji menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer pada sediaan crude, cell-free, sonikasi, dan SCOBY kering terhadap bakteri S. epidermidis ATCC 12228, P. acnes ATCC 11827, dan S. aureus ATCC 6638 pada media Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa optimum 50 g/L menghasilkan penurunan pH paling besar hingga 2,22, laju pertumbuhan SCOBY tertinggi (1,16±0,28 gram/hari), serta stabilitas konsorsium mikroba tercepat sejak hari ke-6, yang ditandai oleh kelimpahan ragi (1,68 × 106 CFU/mL), BAA (3,45 × 10? CFU/mL), BAL (7,95 × 106 CFU/mL), dan total bakteri aerob (2,84 × 10? CFU/mL) yang relatif seimbang. Fermentasi selama 21 hari pada konsentrasi sukrosa 50 g/L menghasilkan senyawa bioaktif tertinggi, dengan total asam tertitrasi sebesar 12,61±1,60 g/L, total fenolik sebesar 336,81±14,86 mg GAE/L, dan total flavonoid sebesar 43,62±1,01 mg QE/L. Kondisi tersebut juga menghasilkan aktivitas antimikroba tertinggi terhadap ketiga bakteri uji penyebab jerawat dengan rata-rata zona hambat sebesar 8,20±4,30 mm yang termasuk kategori sedang. Penghambatan paling efektif ditunjukkan terhadap S. aureus ATCC 6638 dengan zona hambat sebesar 8,45±2,78 mm yang juga termasuk kategori sedang. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa kandungan asam organik memiliki korelasi kuat (0,78) terhadap aktivitas antimikroba, sedangkan senyawa fenolik menunjukkan korelasi sedang (0,48). Berdasarkan hasil tersebut, fermentasi kombucha serai dengan gula 50 g/L selama 21 hari merupakan kondisi optimum untuk menghasilkan bahan baku kosmetik dengan stabilitas konsorisum mikroba tercepat, serta kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antimikroba tertinggi.