digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pencemaran limbah pewarna sintetik dari industri tekstil menjadi permasalahan yang serius akibat tingginya stabilitas pewarna serta potensi toksisitasnya. Pewarna sintetik antrakuinon seperti Remazol Blue RSP (RB RSP) banyak digunakan dalam industri tekstil dan dikenal memiliki struktur aromatik kompleks yang menyebabkan resistensi terhadap degradasi. Resistensi ini berpotensi menyebabkan penumpukan senyawa pada lingkungan dan bersifat toksik bagi makhluk hidup. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan metode pengolahan limbah pewarna. Metode fisik paling umum digunakan namun memerlukan pengolahan lanjutan yang memakan biaya. Metode kimia menghasilkan efektivitas dekolorisasi yang tinggi, namun memiliki risiko memproduksi senyawa antara yang toksik. Metode biologis dinilai ramah lingkungan, namun efektivitasnya sangat bergantung terhadap struktur substrat serta kondisi reaksi. Ozonasi sebagai bagian dari metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) efektif dalam mendekolorisasi pewarna dengan mendegradasi gugus kromofor, namun menyisakan toksisitas yang tinggi karena mineralisasi yang tidak tuntas. Di sisi lain, penggunaan enzim lakase dapat mendegradasi senyawa aromatik namun efektivitasnya terbatas akibat kondisi reaksi yang tidak optimum. Keterbatasan dari tiap metode mendorong pengembangan metode kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar dari Marasmiellus palmivorus dalam meningkatkan dekolorisasi serta menurunkan toksisitas pewarna antrakuinon RB RSP. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tiga metode pengolahan, yaitu ozonasi, enzimatik, dan kombinasi keduanya. Parameter yang dianalisis meliputi persentase dekolorisasi berdasarkan perubahan absorbansi, serta tingkat toksisitas menggunakan uji LC?? terhadap Daphnia magna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kombinasi menghasilkan dekolorisasi tertinggi sebesar 98,8% ± 2,4, meskipun secara statistik tidak berbeda signifikan dengan ozonasi tunggal (96,4% ± 5,4), sedangkan metode enzimatik hanya mencapai 22,6% ± 0,5. Namun, hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa metode kombinasi memberikan peningkatan detoksifikasi yang lebih baik dibandingkan metode tunggal, ditunjukkan oleh peningkatan nilai LC?? yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ozonasi efektif dalam memutus gugus kromofor (penghilangan warna), peran enzim lakase sangat krusial dalam mendegradasi senyawa antara (intermediate) yang masih bersifat toksik. Maka dari itu kombinasi ozonasi dan enzim lakase kasar berpotensi menjadi strategi pengolahan limbah pewarna yang lebih efektif, tidak hanya dalam mencapai dekolorisasi yang tinggi tetapi juga dalam memastikan detoksifikasi limbah secara lebih menyeluruh.