Serat rayon viscose merupakan serat hasil regenerasi selulosa yang kualitas sifat mekanisnya, terutama kekuatan tarik (tenacity) dan kemampuan mulur (elongation) sangat dipengaruhi oleh parameter proses seperti kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath. Pada operasi pabrik ditemukan adanya fluktuasi kualitas serat yang ditandai dengan ketidakstabilan nilai tenacity dan elongation dari produk yang dihasilkan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa parameter operasi yang digunakan belum berada pada kondisi optimum atau belum terkontrol secara konsisten. Fluktuasi kualitas tersebut dapat menyebabkan penurunan performa produk dan menurunkan efisiensi proses produksi secara keseluruhan, hal ini mengindikasikan perlunya identifikasi kondisi operasi optimum yang mampu menghasilkan kualitas serat rayon viscose yang lebih stabil dan memenuhi spesifikasi yang diinginkan.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh variasi kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath terhadap sifat mekanis serat rayon, khususnya nilai tenacity dan elongation, serta menganalisis hubungan antara kedua parameter proses tersebut terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan rentang kondisi operasi yang optimum dalam memberikan kompromi terbaik antara tenacity, elongation, dan kestabilan proses produksi sehingga dapat mendukung peningkatan konsistensi mutu serat rayon viscose.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis data historis untuk mengevaluasi pengaruh parameter proses terhadap kualitas serat rayon viscose. Data yang digunakan merupakan data operasional pabrik selama periode satu tahun yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran rutin pada proses produksi. Variasi kekentalan larutan viscose diuji pada rentang BF 35–69 detik, sedangkan temperatur larutan 2ndbath divariasikan pada interval 48–68 °C untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik serat yang dihasilkan. Data sifat mekanis berupa tenacity dan elongation dikumpulkan secara periodik selama satu tahun, kemudian dianalisis menggunakan metode ANOVA dan analisis deskriptif guna mengetahui tingkat pengaruh masing-masing parameter serta kecenderungan hubungan antara kondisi operasi dengan kualitas serat rayon viscose.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua faktor proses, yaitu kekentalan larutan viscose dan temperatur larutan 2ndbath, memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat mekanis serat rayon viscose, baik terhadap nilai tenacity maupun elongation. Analisis data menunjukkan adanya hubungan trade-off antara kedua parameter kualitas tersebut, peningkatan tenacity umumnya diikuti oleh penurunan elongation, begitu pula sebaliknya. Nilai tenacity cenderung mencapai kondisi maksimum pada rentang kekentalan larutan viscose menengah-rendah, yaitu BF 40–44 detik, sedangkan nilai elongation meningkat pada rentang BF menengah-tinggi, yaitu BF 60–64 detik.
Untuk parameter temperatur larutan 2ndbath, nilai tenacity mengalami peningkatan hingga mencapai kondisi optimum pada rentang temperatur 56–60 °C, kemudian mengalami penurunan pada temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya, nilai elongation menunjukkan kecenderungan terus meningkat pada temperatur tinggi, terutama pada rentang 64–68 °C. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan temperatur 2ndbath berpengaruh terhadap proses regenerasi dan orientasi struktur molekul serat yang terbentuk. Dengan mempertimbangkan keseimbangan antara nilai tenacity, elongation, serta kestabilan proses yang ditunjukkan melalui nilai coefficient of variation (CV), diperoleh rentang operasi yang direkomendasikan yaitu kekentalan larutan viscose BF 50–54 detik dan temperatur larutan 2ndbath 60–64 °C. Kondisi tersebut dinilai mampu memberikan kompromi terbaik dalam menghasilkan serat rayon dengan sifat mekanis yang lebih konsisten, stabil, dan sesuai spesifikasi kualitas produk. Pengendalian kedua parameter secara terintegrasi sangat diperlukan untuk mendukung optimasi kualitas dan kestabilan proses produksi rayon viscose.
Perpustakaan Digital ITB