BAB 1 - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Muhammad Emeryan Rabbani
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Sel surya perovskit anorganik CsPbBr3 dengan elektroda karbon tanpa hole transport layer
menawarkan arsitektur perangkat yang sederhana, tetapi kinerjanya sangat dipengaruhi
oleh kualitas electron transport layer dan antarmuka ETL (Electron Transport Layer)
dengan lapisan perovskit. SnO2 dipilih sebagai ETL karena memiliki transparansi tinggi,
mobilitas elektron yang baik, serta dapat diproses pada suhu relatif rendah, sementara
keberadaan cacat permukaan seperti oxygen vacancy dapat menjadi pusat trap dan
rekombinasi non-radiatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh doping europium
pada SnO2 terhadap karakteristik struktural, optik, morfologi CsPbBr3, serta kinerja
fotovoltaik perangkat. Penelitian mencakup empat kondisi, yaitu SnO2 tanpa doping
sebagai kontrol dan SnO2:Eu dengan konsentrasi 0,00125 M, 0,0025 M, serta 0,005 M.
Substrat FTO (Fluorine-doped Tin Oxide) dibersihkan menggunakan deterjen, air
demineral, aseton, dan isopropanol, kemudian diberi perlakuan UV (Ultraviolet Ozone) -
ozone sebelum deposisi ETL. Larutan prekursor SnO2 dibuat dari SnCl2·2H2O dalam
isopropanol, sedangkan EuCl3.6H2O ditambahkan untuk memperoleh variasi konsentrasi
europium yang digunakan. Lapisan ETL dideposisikan dengan spin coating dan diproses
secara termal sebelum lapisan CsPbBr3 dibentuk melalui metode two-step deposition,
kemudian elektroda karbon dideposisikan menggunakan doctor blade. Karakterisasi
dilakukan menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) untuk identifikasi fasa dan perhitungan
ukuran kristal, FESEM untuk pengamatan morfologi, UV-Vis untuk analisis transmitansi
dan absorbansi, Tauc plot untuk penentuan celah pita optik, serta pengukuran J-V
menggunakan solar simulator AM 1.5G pada intensitas 100 mW/cm2.
Hasil XRD menunjukkan bahwa seluruh sampel didominasi fasa CsPbBr3 berstruktur
ortorombik Pnma, sedangkan CsPb2Br5 tetap terdeteksi sebagai fasa sekunder. Ukuran
kristal berdasarkan persamaan Scherrer adalah 53,4 nm pada kontrol, 52,3 nm pada 0,00125
M, 43,3 nm pada 0,0025 M, dan 50,9 nm pada 0,005 M. Citra FESEM menunjukkan ukuran
vi
butir CsPbBr3 sebesar 0,5 sampai 1,0 ?m pada kontrol, meningkat menjadi 0,7 sampai 1,2
?m pada 0,00125 M dan mencapai 1,0 sampai 1,5 ?m pada 0,0025 M sebelum menurun
kembali menjadi 0,6 sampai 1,0 ?m pada 0,005 M. Spektrum UV-Vis menunjukkan puncak
eksitonik sekitar 510 sampai 515 nm. Hasil Tauc plot memberikan celah pita sebesar 2,307
eV pada kontrol, 2,305 eV pada 0,00125 M, 2,3045 eV pada 0,0025 M, dan 2,292 eV pada
0,005 M. Berdasarkan data J-V , kontrol menghasilkan PCE 4,15%, sedangkan 0,00125 M,
0,0025 M, dan 0,005 M masing-masing menghasilkan PCE 3,64%, 4,48%, dan 3,72%.
Sampel 0,0025 M memberikan PCE tertinggi dengan Voc 1,27 V dan Jsc 4,85 mA/cm2,
meskipun FF-nya sebesar 75,72% masih lebih rendah daripada kontrol yang mencapai
89,1%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa 0,0025 M memberikan kombinasi
karakteristik perangkat paling menguntungkan dalam rentang konsentrasi yang diuji, tetapi
peningkatan performa tidak terjadi secara seragam pada seluruh parameter fotovoltaik.
Perpustakaan Digital ITB