Pembangunan Jembatan Bayung Lencir pada Proyek Jalan Tol Betung–Tempino–Jambi Seksi 2B memiliki kompleksitas tinggi karena melibatkan pekerjaan pondasi, struktur bawah, struktur atas, pekerjaan pengangkatan, pekerjaan di ketinggian, serta pekerjaan di atas atau dekat air. Kompleksitas tersebut menimbulkan risiko pada aspek teknik, manajerial, biaya, waktu, dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Identifikasi risiko konvensional tetap diperlukan, namun cenderung menghasilkan temuan risiko yang bersifat umum dan belum selalu terhubung dengan elemen pekerjaan, lokasi, urutan pelaksanaan, volume, serta biaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas identifikasi risiko menggunakan BIM 3D, 4D, dan 5D, serta mempertajam hasil penilaian risiko Likelihood–Impact melalui simulasi Monte Carlo.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif, semi-kuantitatif, dan kuantitatif probabilistik. Hasil identifikasi konvensional menghasilkan 34 temuan awal yang dikerucutkan menjadi 16 risiko utama manual. Sementara itu, identifikasi berbasis BIM menghasilkan 134 temuan awal yang dikerucutkan menjadi 26 risiko utama berbasis BIM, terdiri atas 9 risiko BIM 3D, 8 risiko BIM 4D, dan 9 risiko BIM 5D. Hasil penilaian Likelihood–Impact menunjukkan 18 risiko berada pada kategori High dan 8 risiko pada kategori Extreme. Setelah dipertajam menggunakan simulasi Monte Carlo dengan Oracle Crystal Ball, tingkat risiko final menjadi 20 risiko Extreme, 2 risiko High, dan 4 risiko Medium. Total dampak risiko pada nilai P80 mencapai Rp366,26 miliar atau 42,80% dari nilai pekerjaan kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BIM mampu meningkatkan kualitas identifikasi risiko secara lebih rinci, visual, terintegrasi, dan dapat ditelusuri, sedangkan Monte Carlo membantu menentukan dampak probabilistik dan prioritas mitigasi risiko secara lebih terukur.
Perpustakaan Digital ITB